Satumejanews.id KUTAI TIMUR – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) mencatat minat pria terhadap program Keluarga Berencana (KB) terus meningkat. Kepala Bidang Keluarga Berencana DPPKB Kutim, Mustika, mengungkapkan saat ini sudah ada hampir 70 orang yang berminat menjadi akseptor KB Pria di wilayah Kutai Timur.
“Alhamdulillah, masyarakat kini menerima KB Pria dan vasektomi karena sosialisasi kami lewat kelompok KB Pria,” ujar Mustika saat ditemui awak media di Kantor DPPKB Kutim, Selasa (1/9/2026).
Mustika menjelaskan KB Pria memiliki dua metode, yaitu penggunaan kondom dan vasektomi. Pihaknya bersyukur karena masyarakat mulai menerima keberadaan vasektomi sebagai salah satu pilihan kontrasepsi.
Meski jumlah peminat mencapai 70 orang, Mustika mengakui angka tersebut masih kecil dibandingkan total penduduk di Kutm. Namun, ia menilai ini sebagai langkah awal yang positif. Kehadiran kelompok-kelompok KB Pria menjadi ujung tombak DPPKB dalam mengkhususkan program KB secara umum, dan secara khusus untuk KB Pria.
“Semoga kelompok-kelompok KB Pria yang telah dibentuk dapat terus aktif berkegiatan di masa mendatang,” imbuhnya.
Terakhir ia menyampaikan DPPKB punya penyuluh KB yang membina kelompok-kelompok KB di setiap desa dan kecamatan. Salah satunya Kelompok KB Pria Bersyukur di Kelurahan Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara, yang sudah berdiri sejak 2013 dan aktif menyosialisasikan vasektomi.
PERSYARATAN KETAT
Mustika menegaskan vasektomi atau kontrasepsi mantap bagi pria tidak bisa dilakukan sembarangan. ada sejumlah syarat ketat yang harus dipenuhi sebelum seseorang memutuskan menjalani prosedur tersebut.
“Kenapa dibilang KB mantap, semuanya harus mantap. Karena satu, tidak ingin punya anak lagi. Nah itu harus mantap dulu,” tegas Mustika
Syarat pertama adalah kesepakatan kedua belah pihak, suami dan istri. Kedua, calon akseptor harus dalam kondisi sehat. Ketiga, ada batasan usia minimal 35 tahun. Selain itu, pasangan idealnya sudah memiliki dua anak.
Mustika juga mempertimbangkan aspek ekonomi. “Kalau ekonominya bagus, kenapa harus berKB? Kalau dia bisa masih, kita tidak mencegah tidak punya anak lagi. Tapi kalau, silahkan banyak anak, tapi cukupin hak-hak anak yang ada,” ujarnya.
Ia menekankan keputusan menjalani vasektomi harus dipikirkan masak-masak, karena prosedur ini bersifat permanen. Meskipun vasektomi gratis dari pemerintah, untuk mengembalikannya ke kondisi normal membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan proses yang rumit.
“Makanya enggak gratis (untuk mengembalikan). Itu makanya dipilihkan dari awal. Susah untuk mengembalikan lagi,” jelas Mustika.
Pihaknya selalu mengedukasi masyarakat agar tidak menyalahgunakan vasektomi sebagai alasan untuk perilaku menyimpang. (sm4)



























