Beranda Kominfo Kutim Ribuan Warga Ikuti Salat Istisqa, Wabup : Jika Belum Hujan akan Kita...

Ribuan Warga Ikuti Salat Istisqa, Wabup : Jika Belum Hujan akan Kita Laksanakan Lagi

360
0

Wabup Kuti M Mahyunadi, saat diwawancara usai mengikuti salat Istisqa (lintang/satumejanews.id)

Satumejanews.id. KUTAI TIMUR – Ribuan masyarakat menghadiri salat istisqa di halaman kantor Bupati, Kawasan Bukit Pelangi, Rabu (9/9/2026). Salah satu tujuannya untuk meminta agar diturunkan hujan, lantaran musim kemarau dan lama tidak ada hujan turun di daerah ini.

Salat istisqa yang digelar Pemkab Kutim bersama jajaran Kementerian Agama Kuti mini, dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Mahyunadi dan sejumlah pejabat lingkup Pemkab serta pejabat instansi vertical yang ada di daerah ini.

Salat Istisqa dipimpin Uutaz Jamaluddin Salman sebagai imam, sedangkan khutbah disampaikan Ustaz Hamdan Asrofi. Ribuan jamaah mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk, kemudian melanjutkannya dengan doa bersama.

Usai kegiatan, Wabup Mahyunadi mengatakan, salat istisqa tidak harus dilakukan hanya sekali. Jika hujan belum turun dalam waktu dekat, Pemkab Kutim akan kembali melaksanakan salat istisqa.

“Salat istisqa itu pada zaman dulu tidak dilakukan hanya sekali. Dilakukan berkali-kali. Kalau ini belum turun hujan dalam waktu dekat, maka kita lakukan lagi salat istisqa,” ujar Mahyunadi.

Menurutnya, pelaksanaan salat istisqa juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Ia berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat segera dikabulkan dengan turunnya hujan yang membawa keberkahan bagi masyarakat Kutim.

Mahyunadi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh opini di media sosial terkait pelaksanaan salat istisqa, terutama jika hujan belum langsung turun setelah kegiatan.

“Jangan sampai kita baru dua kali sudah dibilang doa tidak terkabul. Insyaallah doa kita terkabul,” tegasnya.

Dijelaskan, kondisi Kutim saat ini belum berada pada tahap kekeringan yang parah. Namun, pemerintah tetap perlu mengantisipasi kemungkinan kemarau panjang dengan berkaca pada kondisi yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015.

“Yang kita khawatirkan, jika berkaca kepada tahun 1997, 2015, kemaraunya sampai Desember. Makanya kita segera, sebelum sampai ke situ, kita segera melaksanakan salat istisqa minta hujan,” katanya.

Meski sempat turun hujan di sejumlah wilayah Kutim beberapa waktu terakhir belum tentu menjadi tanda bahwa musim penghujan telah tiba. Kondisi serupa, kata dia, juga pernah terjadi pada periode kemarau panjang sebelumnya.

Mahyunadi berharap hujan kembali turun dengan intensitas yang lebih lebat dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan di Kutim. (adv/tg)