Beranda Kutai Timur Sesuai data SIGA, di Ancalong Tercatat Ada 554 KRS

Sesuai data SIGA, di Ancalong Tercatat Ada 554 KRS

329
0

Satumejanews.id. KUTAI TIMUR – Di wilayah Kecamatan Muara Ancalong tercatat ada 554 keluarga berisiko stunting (KRS) berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA). Kondisi tersebut mendorong Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim turun langsung melalui layanan jemput bola untuk memastikan keluarga sasaran mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.

Layanan penanganan KRS tersebut berlangsung di Kantor Camat Muara Ancalong, Rabu (9/9/2026), sebagai bagian dari implementasi 50 Program Unggulan Bupati Kutai Timur Prioritas Nomor 22, yakni Layanan Jemput Bola Stop Stunting.

Sekretaris DPPKB Kutim Jumran yang mewakili Plh Kepala DPPKB Kutim mengatakan, kunjungan lapangan menjadi langkah penting untuk memastikan data dan kondisi keluarga berisiko stunting dapat ditangani secara langsung.

“Ini merupakan aksi implementasi program unggulan untuk mewujudkan keluarga berkualitas, terbebas dari anak stunting, menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Berdasarkan data SIGA terbaru, 554 KRS tersebut tersebar di sembilan desa. Desa Senyiur menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 207 keluarga, disusul Kelinjau Ulu 167 keluarga, Muara Dun 60 keluarga, Gemar Baru 39 keluarga, Long Nah 29 keluarga, Long Tesak 27 keluarga, Long Poq Baru 13 keluarga, serta Kelinjau Ilir dan Teluk Baru masing-masing enam keluarga.

“Penanganan KRS membutuhkan kolaborasi semua pihak. Kami mengajak perusahaan dan seluruh elemen di Muara Ancalong untuk bersama-sama mengambil peran,” tutup mantan camat kombeng tersebut.

Tak hanya memberikan edukasi di tingkat kecamatan, tim DPPKB Kutim sebelumnya juga melakukan kunjungan langsung ke rumah warga di Desa Kelinjau Ilir yang tercatat sebagai KRS.

Salah satu keluarga yang dikunjungi yakni keluarga ibu Rosida dan bapak Hermanto dengan anak bernama Muhammad Alvin. Keluarga tersebut menghadapi sejumlah faktor risiko, di antaranya persoalan gizi, usia ibu, kondisi ekonomi yang masuk desil 2, serta belum tersedianya akses air bersih.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi keluarga sekaligus mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang diperlukan. Pendekatan ini dinilai penting agar penanganan KRS tidak berhenti pada data, tetapi benar-benar menyentuh kondisi keluarga di lapangan.

Sementara itu, Camat Muara Ancalong Saberan Nete menyampaikan apresiasi langkah DPPKB Kutim. Ia mengatakan, angka stunting di wilayahnya terus menunjukkan penurunan.

“Alhamdulillah, terkait stunting terus mengalami penurunan. Tahun kemarin ada 42, kemudian tahun ini tinggal sekitar 18,” katanya.

Menurutnya, penurunan tersebut tidak lepas dari kerja sama lintas sektor yang dilakukan secara konsisten. Pemerintah Kecamatan Muara Ancalong juga menyiapkan penguatan kolaborasi dengan perusahaan swasta di wilayah tersebut untuk mendukung percepatan penanganan stunting.

Saberan mengatakan, pemerintah kecamatan berencana menjalin kerja sama dengan perusahaan melalui nota kesepahaman (MoU), sehingga sektor swasta dapat ikut mengambil peran dalam penanganan stunting dan persoalan sosial lainnya.

Selain penanganan, upaya pencegahan juga menjadi perhatian. Sosialisasi lintas sektor akan diperkuat, termasuk edukasi mengenai batas usia perkawinan sebagai bagian dari pencegahan munculnya faktor risiko baru.

Dalam kegiatan tersebut, DPPKB Kutim turut menyerahkan secara simbolis Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari Baznas Kutim kepada 10 keluarga berisiko stunting. Edukasi juga diberikan Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DPPKB Kutim Tristiningsih mengenai layanan penanganan KRS. Sementara Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim Ani Saida memaparkan perkembangan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

Kegiatan dihadiri Babinsa, Kapolsek, Ketua Persit, Bhayangkari, perwakilan Dinas Kesehatan, TP-PKK Kecamatan, PDAM, Dinas Pendidikan, Himpaudi, para kepala desa, perusahaan sekitar, serta penyuluh KB. (sm4)