Beranda Umum & Ekonomi Bank “Inflasi” Indonesia

Bank “Inflasi” Indonesia

22008
0

Catatan Rizal Effendi

SELAMA bertugas sebagai wali kota, saya selalu dekat dengan Bank Indonesia (BI). Maklum ada tugas yang sama-sama diemban. Kita harus kompak, di antaranya menjaga kestabilan rupiah terhadap harga barang atau inflasi. Karena itu ada wadah yang namanya TPID, Tim Pengendali Inflasi Daerah. Ada juga TPIP, Tim Pengendali Inflasi Pusat.

Tak jarang saya bersama anggota TPID di antaranya dari BI, BPS, Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, dan bahkan kepolisian belusukan ke pasar untuk memantau perkembangan harga cabai, ikan, telur, bawang, daging, ayam, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya. Itu semua berpengaruh terhadap angka inflasi. Selain juga kenaikan harga niscaya meresahkan emak-emak.

Tiap tahun ada pertemuan TPID se-Indonesia. Dibuka Presiden atau Wakil Presiden. Sekaligus sebagai ajang penghargaan kepada daerah yang punyai kreasi dan inovasi tinggi untuk menjaga inflasi. Balikpapan dan Samarinda pernah meraih itu. Oleh karena itu saya juga sering memberikan penghargaan dan apresiasi kepada pemimpin BI, khususnya BI Balikpapan, yang aktif bahu membahu.

Saya jadi teringat TPID karena tanggal 1 dan 5 Juli ada peristiwa sejarah yang sangat penting bagi perkembangan bank di Indonesia. Tanggal 1 Juli 2022 bertepatan Hari Bhayangkara, diperingati juga HUT ke-69 Bank Indonesia (BI). Sedang 5 Juli 2022 adalah Hari Bank Indonesia (HBI) ke-76.

HUT BI berkaitan dengan didirikannya BI sekaligus ditetapkan menjadi bank sentral oleh pemerintah melalui undang-undang pada 1 Juli 1953. Sedang HBI terkait dengan riwayat Bank Nasional Indonesia (BNI), yang lahir sejak 5 Juli 1946.

BNI merupakan bank pertama yang didirikan pemerintah Republik Indonesia setelah kemerdekaan, yakni berdasarkan UU Darurat 5 Juli 1946.
Sedang pengesahan BI sebagai bank sentral seiring dengan dilaksanakannya nasionalisasi terhadap De Javasche Bank (DJB) setelah pengakuan kedaulatan RI dari Belanda pada 27 Desember 1949, hasil Konferensi Meja Bundar (KMB).

Berdirinya BI karena muncul desakan untuk mendirikan bank sentral sebagai wujud kedaulatan ekonomi Republik Indonesia.

Antara DJB, BNI, dan BI memang saling terkait riwayat yang cukup kompleks dalam perjalanan sejarah perbankan di Tanah Air. Maka, peringatan tanggal 5 Juli sebagai HBI bukan merujuk pada lahirnya BI sebagai bank sentral.

BNI sendiri selanjutnya ditetapkan sebagai bank umum sejak 1955, dan saat ini berstatus sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Perlu diketahui, bank sentral adalah lembaga yang bertanggung jawab untuk mengatur keuangan di suatu negara agar tetap stabil. Di negara tetangga Malaysia namanya Bank Sentral Malaysia. Sedang di Singapura ada yang namanya Monetary Authority of Singapore.

Berdasarkan UU No 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia, maka tujuan pokok BI itu adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Hal ini dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, kestabilan nilai rupiah terhadap harga barang dan jasa, yang diukur dengan inflasi. Kedua, kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang asing, yang kita kenal sebagai nilai tukar atau kurs.

Untuk mencapai tujuan tersebut, BI mempunyai tugas: menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran serta menjaga stabilitas sistem keuangan.

BI sendiri memiliki dua kedudukan penting, yaitu sebagai lembaga negara yang independen dan sebagai badan hukum. Sebagai lembaga independen, BI tak bisa diintervensi. BI mempunyai hak penuh dalam merumuskan dan melakukan tugas sesuai undang-undang.

Sebagai badan hukum, BI memiliki wewenang untuk menetapkan peraturan hukum yang mengikat masyarakat luas sesuai dengan tugas dan wewenangnya.

Gubernur BI saat ini adalah Perry Warjiyo. Perry didampingi deputi gubernur senior Destry Damayanti dan 5 deputi yaitu Dody Budi Waluyo, Doni Primanto Joewono, Juda Agung, dan Aida S Budiman. Mereka semua disebut Dewan Gubernur BI. Masa jabatannya sama dengan kepala daerah, anggota legislatif, dan presiden, 5 tahun.

Perry dan Dody pernah ke Balikpapan. Saya sempat bertemu. Malah saya bersama kepala daerah lainnya pernah mengikuti pelatihan di kantor pusat BI di Jl MH Thamrin 2, Menteng, Jakarta Pusat. Perry juga ketua umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Kebetulan saya ketua ISEI Balikpapan.

“Insyaallah saya akan bawa BI pro stability dan pro growth. Sehingga kita bisa memajukan ekonomi nasional dan mendorong ekonomi kerakyatan,” katanya waktu menjalani fit and proper test di DPR, 28 Maret 2018.

ADA DUA PERWAKILAN
Di Kaltim ada dua kantor perwakilan BI. Di Samarinda namanya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur di Jl Gajah Mada No 1, persis sebelah Kantor Gubernur. Sedang di Balikpapan ada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan di Jl Jenderal Sudirman 20, berseberangan dengan markas Kodam VI/Mulawarman.

Kepala Perwakilan BI Kaltim adalah Ricky Perdana Gozali menggantikan pejabat sebelumnya Tutuk SH Cahyono, yang mendapat tugas baru menjadi kepala Perwakilan BI di Beijing, China. Sedang Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Bambang Setyo Pambudi menggantikan Sri Darmadi Sudibyo.

Tutuk cukup lama bertugas di daerah ini. Sejak 2010. Sebelumnya dia sempat menjadi kepala perwakilan BI Balikpapan, yang membawahkan Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Paser. Saya menjulukinya “Bapak Cabai Balikpapan.” Berkat kerjasama BI, Pemkot dan PKK, kita sukses melaksanakan Festival Pembiayaan Usaha dan Pembagian Bibit Cabai,” sampai memecahkan rekor MURI.

Salah satu hobbynya bermain tenis meja atau pimpong. Di Balikpapan pernah saya kalahkan. Tapi di Samarinda berpasangan dengan Wagub Hadi Mulyadi, pasangan ini kabarnya tak terkalahkan. Apalagi sekarang bertugas di Beijing, gudangnya pemain tenis meja dunia. Jangan-jangan kalau pulang bukan lagi pejabat BI, tapi jadi petenis meja dunia.

Saya juga akrab dengan kepala BI Balikpapan penerusnya. Mulai Mawardi BH Ritonga, Suharman Tabrani, Bimo Epyanto sampai Sri Darmadi Sudibyo. Dengan yang bertugas sekarang Pak Bambang saya tidak sempat bertemu karena sudah purnatugas. Termasuk juga Pak Ricky di Samarinda.

Pak Suharman saya beri gelar “Bapak Bawang Balikpapan.” Dengan bantuan BI, petani di Teritip dilatih dan diberi bantuan bibit, sampai akhirnya bisa panen bawang merah. Seumur-umur baru sekali petani di Balikpapan bisa menanam bawang. Pak Suharman juga menginisiasi Sekolah Peduli Inflasi. Juga memecahkan rekor MURI. Selain Sekolah Peduli Inflasi, juga Ulama Peduli Inflasi.

Dengan Pak Bimo, BI bekerjasama dengan PKK meluncurkan program Gerakan Wanita Mathilda (GWM). Dilanjutkan lagi oleh Pak Dibyo dengan program Gerakan Bangga dan Bangkit (Gerbang) UMKM. Begitu juga oleh Pak Bambang.

Saya tak mengira BI begitu aktif di daerah. Dulu rasanya BI seolah-olah hanya bertugas mengawasi bank dan memproduksi uang baru. Sangat eksklusif. Tapi sekarang berbagai program terobosan dilakukan untuk menjaga kestabilan keuangan dan ekonomi Indonesia.

BI juga mulai mendorong masyarakat memanfaatkan alat pembayaran nontunai. Tidak melulu pakai uang kertas atau koin. Sebab itu juga menguras biaya untuk memproduksinya. Sekarang diperkenalkan, yang namanya QRIS atau Kode QR Standar Indonesia.
QRIS dikembangkan BI bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia dengan tujuan untuk mengintegrasikan seluruh metode pembayaran nontunai di Tanah Air. Transaksinya cepat dan aman.
Kalau pembeli datang ke merchant penjualan, sudah beli barang dan diberitahu nominalnya, tinggal buka aplikasi uang/dompet elektronik salah satu bank, lalu pilih tombol scan QR.

Sebagai ketua Masjid Agung At Taqwa, saya sudah mempersiapkan program QRIS bersama Bankaltimtara. Saya lihat di beberapa masjid modern, jamaah yang ingin bersedekah tak perlu lagi bawa uang. Cukup tempelkan HP.

Dunia perbankan sangat tidak asing bagi saya. Istri saya, YP Arita pernah cukup lama menjadi kepala cabang BCA Balikpapan, yakni 8 tahun. Saya juga punya teman pensiunan BI, Andi Burhanuddin. Dia minta pensiun dini. Alasannya, masih banyak mimpinya yang belum terwujud kalau ia bertahan di BI.

Dia teman sekampus, Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda. Sekarang tinggal di Makassar. Saya tak mengira dia bisa diterima di BI karena semasa mahasiswa gaya hidup dan penampilannya cenderung jadi seniman urakan. Suka baca puisi dan menulis novel. Sekarang menjadi motivator di BPD-BPD termasuk BPD Kaltimtara. “BI membuka ruang bagi saya untuk berkarya dan berbuat lebih baik,” katanya bangga. Selamat HUT ke-69 BI dan ke-76 HBI.(*)

Artikulli paraprakKejutan, Dandim1002/HST Beri “Kado Khusus” HUT Bhayangkara ke-76 ke Kapolres HST
Artikulli tjetër27 Anggota Polres HST Naik Pangkat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini