Beranda Keagamaan Haji Furoda di Haji Akbar

Haji Furoda di Haji Akbar

14168
0

Jamaah haji Wukuf di Arafah. (Ist)

Catatan Rizal Effendi

IBADAH HAJI tiap tahun selalu ramai. Ramai ibadahnya, ya ramai urusan berangkatnya. Maklum ini rukun Islam kelima. Wajib bagi yang mampu. Tempatnya cuma satu di Tanah Suci Makkah. Bukan di Gunung Bawakaraeng. Pelaksanaannya juga cuma sekali setahun, persisnya di bulan Zulhijjah. Di bulan lain hanya umrah, tidak wajib alias sunnah.

Karena yang mau datang ke Tanah Suci umat Islam sedunia, sementara kapasitas terbatas, mau tidak mau Pemerintah Arab Saudi sebagai penjaga dua kota suci, Makkah dan Madinah (Khadim al-Haramain asy-Syarifain)  membuat regulasi pembatasan. Dulu kuotanya sekitar dua juta orang. Sempat stop total gara-gara Covid-19, lalu di tahun 2022 ini dimulai lagi. Cuma kerannya baru dibuka separuh dari jumlah yang biasa.

Jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini hanya 100 ribu orang, terdiri 92 ribu lebih haji reguler, 7 ribu lebih haji khusus plus didampingi sekitar 2.000 petugas haji. Padahal sebelum Covid rata-rata di atas 200 ribu orang.

Jatah untuk Kaltim hanya 1.181 orang tersebar di 10 kabupaten/kota. Terbanyak Samarinda 260, Kukar 241, Balikpapan 239 dan Paser 112. Yang lain di bawah 100 orang dan bahkan Mahakam Ulu hanya 5 orang.

Karena masih dibatasi, maka salah satu persyaratan yang bisa berangkat adalah jamaah haji yang berusia maksimal 65 tahun. Yang repot, kalau jamaah pasangan suami istri beda usia. Yang suami di atas 65 tahun, sementara istri di bawah 65 tahun. Hanya sang istri boleh berangkat. Pilihannya berangkat sendiri atau batal dua-duanya.

Sebelum Covid saja antrean berangkat haji sangat lama. Apalagi yang sekarang. Rata-rata di atas 10 tahun dan bahkan di atas 20 tahun. Jadi yang punya kesempatan berangkat tentu heboh. Kebahagiaannya luar biasa. Kecuali yang berduit, walau antre tapi tidak begitu lama. Malah masih ada yang mendaftar tahun ini, berangkat tahun ini juga.

Selama ini, berangkat haji yang resmi dari Pemerintah Indonesia hanya haji reguler dan haji khusus. Tapi namanya orang mau berangkat dan mau ke Tanah Suci, maka istilah “banyak jalan ke Roma” kerap digunakan. Caranya ada yang setengah tidak resmi dan ada yang sama sekali tidak resmi. Bahkan kucing-kucingan atau rada aneh.

Misalnya, mereka yang memercayai seakan-akan ziarah ke Gunung Bawakaraeng, Sulsel sama dengan pergi haji ke Makkah. Ada yang memercayai Gunung Bawakaraeng  itu ‘Mulut Sang Pencipta.” Bawa artinya mulut, karaeng adalah  Sang Pencipta. Di situ tempat bersemayamnya Tu Rie Arana atau To Kammayya Kananna (Yang Maha Berkehendak).

“Haji” di Gunung Bawakaraeng

Ternyata sebelumnya pada tahun 1930-an juga muncul kepercayaan lokal di Jawa Tengah. Ada sekelompok orang  yakin bahwa berziarah tujuh kali ke Masjid Demak akan sama nilainya dengan naik haji ke Makkah. Akibatnya setiap tanggal 1 sampai 10 Zulhijjah, banyak orang berdatangan ke Demak.  

Saudara saya, di antaranya orang Banjar dan orang Madura  punya cara tersendiri supaya bisa haji gratis. Saya tidak tahu apakah cara-cara ini masih dijalankan. Tapi saya dengar sekarang pintunya sangat rapat dan tidak gampang lagi diterobos.

Dulu mereka berangkat umrah beberapa bulan sebelum musim haji. Sampai di sana, diam-diam sembunyi dan biasanya ditampung oleh saudara mereka yang lebih dulu tinggal di sana. Namanya mukimin, orang yang tinggal di Makkah.

Mereka bekerja serabutan. Yang penting bisa makan dan belanja seperlunya.  Begitu musim haji mereka keluar dan ikut berhaji. Ada yang lancar dan ada juga yang ketangkap petugas keamanan atau baladiyah. Jika berhasil, alhamdulillah mendapat haji gratis. Selanjutnya ada yang tetap menetap di sana, ada yang pulang dideportasi setelah ditahan. Karena dianggap pendatang gelap.

Saya pernah ditawari cara berhaji lewat negara lain. Ini bisa dilakukan oleh WNI yang tinggal di negeri itu, dan bisa juga WNI di Indonesia tapi mendaftar di negara lain. Maklum terkadang jatah haji di negara lain masih longgar. Ada yang lewat Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Filipina, dan negara lain.

Belum lama ini beredar video WNI yang tinggal di Amerika Serikat. Mereka beruntung bisa berangkat haji dengan gampang. Malah katanya sejumlah travel haji di sana mencari-cari jamaah. Tidak menunggu lama sampai bertahun-tahun. Tarifnya antara 3 ribu sampai 10 ribu dolar AS. Rata-rata ada 10 ribu orang yang berangkat dari Amerika Serikat ke Tanah Suci setiap tahun.  

Konsul Jenderal RI di Jeddah, Eko Hartono mengakui ada sejumlah WNI yang berangkat haji dari luar negeri. “Cuma kita sulit memantau karena mereka langsung mendaftar sendiri-sendiri,” katanya.

ADA 4.000  FURODA

Di tengah proses keberangkatan jamaah haji Indonesia ke Tanah Suci, kita dihebohkan dengan berita ada 46 calon jamaah haji Indonesia dipulangkan oleh petugas Imigrasi Arab Saudi. Padahal mereka baru mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, akhir Juni lalu. Tragisnya sudah mengenakan pakaian ihram. Dan sudah mengeluarkan biaya keberangkatan sampai Rp 300 jutaan.

Belakangan diketahui mereka kelompok haji furoda atau haji mujamallah. Mereka adalah jamaah haji yang menggunakan kuota undangan Raja Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Anehnya visa mereka tidak beres, menggunakan visa furoda dari Singapura dan Malaysia.

“Ini terpaksa kami lakukan karena visa dari Indonesia tidak kunjung terbit,” kata Ropodin, pimpinan perjalanan haji Alfatih Indonesia, yang memberangkatkan ke-46 calon jamaah haji tersebut.

Menurut Ketua Umum Syarikat Penyelenggara Umrah dan Haji (Sapuhi) Syam Resfiadi, haji furoda memang memungkinkan dilaksanakan. Visanya dikeluarkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tanpa melalui Kemenag. Harga haji furoda memang lebih mahal dan bahkan di atas tarif haji plus.

Tahun ini ada 1.600 yang bisa berangkat. Tapi diakui ada 4.000-an yang gagal termasuk yang 46 orang, yang menghebohkan itu. Haji furoda juga dibatasi gara-gara Covid 19.

Dalam praktiknya ada  dua jenis haji furoda. Haji Furoda Undangan, yaitu mereka yang mendapat undangan khusus dari Kerajaan. Biaya hajinya digratiskan termasuk pelayanan akomodasi dan sebagainya. Tahun ini yang beruntung di antaranya Gubernur Jabar Ridwal Kamil dan istrinya Atalia Praratya untuk mengobati kesedihannya. Wakil Presiden Kiai Ma’ruf Amin dan Ibu Wury Ma’ruf Amin juga berangkat atas undangan raja.

Ada juga Haji Furoda Mandiri, yaitu mereka yang berhaji dengan visa Kerajaan tapi tetap membayar. Malah bayarannya lebih tinggi dari ONH Plus, antara Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Tapi mereka juga mendapat pelayanan istimewa dan berbagai kemudahan lainnya. Penyelenggaranya tetap perusahaan perjalanan haji yang resmi. Kabarnya travel yang menangani 46 haji furoda itu belum tercatat di Kemenag.

Putri Wapres Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah dikabarkan juga membuka pelayanan haji furoda. Perusahaan travel hajinya Sinergi Nusantara Anugerah (SNA) bekerjasama dengan Ahsanta Tours and Travel. Biaya yang dipatok hampir Rp 1 miliar atau US$ 62 ribu per orang. “Itu kelas tertinggi alias VVIP,” jelasnya kepada Tempo.Co.

Jamaah haji furoda dipulangkan ke Tanah Air

Terlepas dari soal jenis hajinya, semua yang bisa datang ke Tanah Suci tahun ini sangat bahagia. Sebab, Pemerintah Arab Saudi menetapkan pelaksanaan wukuf pada hari Jumat, 8 Juli 2022 atau 9 Zulhijjah 1443 Hijriyah. Itu berarti predikatnya haji akbar.

Haji akbar banyak keistimewaannya. Pasalnya hari Jumat merupakan Sayyidul Ayyam atau rajanya hari. Nabi sendiri hanya sekali melaksanakan haji wada’ dan haji akbar. Karena itu semua jamaah pasti bersemangat untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya.

Yang agak ramai soal pelaksanaan Hari Raya Iduladha. Sebab, Pemerintah Arab Saudi menetapkan hari Sabtu, 9 Juli 2022 sama dengan hisab yang dilakukan Muhammadiyah. Sementara Pemerintah Indonesia menetapkan 10 Juli 2022 setelah sidang isbat membahas hasil pemantauan hilal di 86 titik, akhir Juni  lalu.  

Mana yang tepat? Teman saya H Nasir, keturunan India yang ikut mengurus Masjid Manuntung di Kebun Sayur mengatakan dia ikut ulil amri saja. “Kan sudah ada keputusan Pemerintah, ya kita ikuti keputusan itu,” jelasnya.

Selain Indonesia, negara-negara ASEAN seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand juga merayakan Iduladha 10 Juli. Termasuk Hongkong,  Pakistan, dan Afghanistan. Tapi Mesir dan Uni Emirat Arab sama dengan Arab Saudi 9 Juli. Kabarnya Amerika juga.

Tahun ini Otoritas Penerbangan Arab Saudi (GACA) memperlakukan secara ketat larangan membawa air Zamzam. Mereka yang melanggar akan dijatuhi hukuman yang tegas. Jamaah hanya mendapatkan air Zamzam 5 liter di debarkasi setibanya di Tanah Air.  

Kalau kurang? Ya terpaksa membeli di toko-toko khusus di sekitar asrama haji atau di kota. Sekarang sudah banyak yang jualan barang-barang dari Tanah Suci. Yang penting kita bisa bertalbiyah. Labbaika allahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik.  (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-MU, aku penuhi panggilan-Mu.)(*)

Artikulli paraprakPolres HST Juara 3 Kebersihan Mako dan Asrama, Kapolres : Jangan Cepat Puas atas Prestasi
Artikulli tjetërPertamina Hulu Mahakam Mencapai Produksi Migas Triwulan Dua Diatas Target

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini