Beranda Nasional Menyorot Peluang Indonesia di 9th APBF Open Congress

Menyorot Peluang Indonesia di 9th APBF Open Congress

519
0

Oleh : Bert Toar Polii

Pada tanggal 18-27 Mei 2024 di Montien Hotel Surawong Bangkok akan berlangsung 9th APBF Open Congress.

Event ini merupakan event 4 tahunan sekali yang digelar oleh Asia Pacific Bridge Federation (APBF) pada tahun genap.

Sesuai kalender turnamen dari APBF setiap tahun diadakan satu turnamen yang boleh diikuti oleh negara-negara anggota dari Asia ditambah Australia dan Selandia Baru sebagai anggota tamu.

Pada tahun ganjil diadakan APBF Championships yang sekaligus juga menjadi babak kualifikasi Zone VI Asia Timur untuk memilih wakil yang akan mengikuti World Bridge Team Championships.

Pada tahun genap ada Asia Cup dan APBF Congress. Perbedaanya pada Asia Cup hanya boleh diikuti perwakilan dari negara anggota sedangkan APBF Open Congress sesuai Namanya bersifat terbuka dan transnational.

Seperti yang kita lihat di Bangkok ini, peserta yang ikut bervariasi ada yang mewakili negara, ada gabungan dari beberapa negara anggota APBF bahkan ada peserta dari negara-negara yang bukan anggota APBF.

Di Bangkok ada peserta dari Amerika Serikat yang bergabung dengan pemain dari Bulgaria dan China. Ada pemain dari Inggeris yang bergabung dengan pemain dari Hongkong dan lain-lain.

Indonesia sendiri menurunkan 5 tim yang turun di 3 nomor pertandingan. Awalnya sebenarnya Indonesia sudah lengkap mendaftar di 4 nomor tapi kemudian Djarum Senior mundur. Sayang sekali tidak ada peserta nomor junior dari Indonesia.

Daftar peserta dari Indonesia : Open Team : Djarum Super dengan para pemain Paulus Sugandi (PC), Jemmy Bojoh, Stefanus Supeno, Leslie Gontha, Anthony Soebroto dan Agus Kustrijanto.

Ladies Team : Ganesha Bridge Club dengan para pemain Denis Kristanda (NPC), Tracy Awuy Polii, Diana Aulia Rahma, Fera Damayanti, Riantini, Setiatin Afriani dan Nur Afifatur Rohinun.

Kalimantan Timur dengan para pemain Ester D Soriton, Ika A Puspitasari, Adella Safira ,Juastri Siska, Jessica Tahya dan Chaterine Tahya.

Mixed Team : Ganesha Bridge Club dengan para pemain Nenen R Djauhaari (NPC), Abah Tonny Sastramihardja, Beni J Ibradi, Taufik G Asbi, Lusje O Bojoh, Joice Grace Tueje dan Dewita Sonya..

Bhineka Bridge Club : Handojo Susanto, Hartono, Robert Parasian, Linda Sitompul, Salvina Rosi dan Conny E Sumampouw.

Setelah mempelajari daftar peserta, tukang bridge melihat peluang tim Indonesia untuk meraih medali di event ini cukup berat.

Di Open Team  tumpuan kita pada Djarum Bridge Club karena Sulawesi Utara yang awalnya mendaftar kemudian batal berangkat.

Mereka harus bersaing dengan beberapa tim yang menurut tukang bridge cukup Tangguh.

Pertama adalah 7 tim dari China yang pasti minimal 4 tim dari mereka adalah tim Tangguh karena diperkuat para pemain yang malang melintang di timnas.

Kemudian ada tim NBA yang diperkuat pasangan Inggeris Brian Senior/Nigel Bird bergabung dengan pasangan dari Hongkong Abby Chiu/Alan Sze peraih medali emas Asian Games Hangzhou.

Tim Alikana gabungan pemain Jepang, Taiwan dan Singapura. Tim Gordy dari Amerika Serikat dan masih ada lagi tim dari Selandia Baru dan Hongkong yang bisa menjadi ancaman.

Bermain 25 session babak penyisihan @12 board sangat membutuhkan bermain 3 pasangan sehingga waktu istirahat pemain bisa terjaga.

Sebab bermain 5 dan ada 6 session sehari dimana suhu di Bangkok sedang panas bahkan mencapai 40 *C lebih.

Hal yang sama juga terjadi di nomor mixed team. Cukup banyak tim kuat yang ikut dari 20 tim peserta. Sebagian besar terutama pemain putri memilih bermain di nomor ini.

Sebut saja Joice Tueje dan Lusje Bojoh, kemudian ada Grand Master Wanita dari China seperti Wang Wen Fei, Qi Shen, Yan Lu, Sun Ming dan lain-lain. China sendiri mengirimkan 6 tim di nomor ini.

Pemain putri andalan Hongkong juga memilih bermain di nomor mixed team. Hongkong mengirimkan 5 tim.

Saingan lain adalah 2 tim Jepang yang dimotori pemain senior Kenji Miyakuni yang cukup dikenal di Indonesia karena beberapa kali ikut Djarum Cup. Satu tim lagi dimotori Kyoko Ohno/A Yamada yang biasanya bermain di nomor senior team.

Akibat banyak pemain top putri yang memilih bermain di mixed maka nomor putri sepi pemain top.

Tim Tangguh di nomor ini jelas adalah dua tim China karena di China berhamburan pemain putri berbakat sehingga bisa dikatakan mirip Amerika dulu di tim putra. Ada yang bilang China bisa membentuk minimal 5 timnas putri yang kekuatannya hamper merata.

Sisa 9 tim hamper merata kekuatannya. Semoga andalan Indonesia Ganesha Bridge Club dan Kaltim bisa mencuri peluang untuk lolos ke 4 besar. ***

Artikulli paraprakMiliki Tenaga Ahli, DP3A Siap Dampingi Korban Kekerasan
Artikulli tjetërHarkitnas Dikukar Digelar di Halaman Kantor Bupati, Edi Damansyah Jadi Irup

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini