Satumejanews.id. KUTAI TIMUR – Pekerja perempuan dan petani sawit yang ada di lapangan, masih kerap menjadi beban kerja ganda. Bukan itu saja, mereka juga memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja, paparan bahan kimia, keterbatasan akses modal, pelatihan hingga minimnya keterlibatan dalam pengambilan Keputusan
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Kadistransnaker) Sulieman mewakili Bupati Kutim, ketika memberikan sambutan pada acara pembukaan Lokakarya Multipihak Penguatan Sinergi Lintas Sektor bertajuk “Suara Setara, Karya Nyata: Mendorong Peran Perempuan dalam Pembangunan dan Mewujudkan Kesetaraan dan Perlindungan Pekerja Perempuan Sawit”, di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, sektor perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penopang perekonomian nasional dan daerah. Di Kutim, sektor tersebut mencakup area sekitar 452 ribu hektare dan menyerap ribuan tenaga kerja, mulai dari pekerja harian, pekerja tetap, hingga petani mandiri dan plasma.

Namun, di balik kontribusi tersebut masih terdapat sejumlah tantangan, khususnya terkait pemenuhan kerja layak dan pengarusutamaan gender.
Sedangkan Ketua Yayasan Solidaridad Network Indonesia Anton Hidayat mengatakan program penguatan pekerja perempuan di sektor sawit telah dilakukan bersama pemerintah daerah sebelumnya. Di Kutim, Solidaridad mulai berkegiatan sejak 2024 dan berfokus pada dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan di sektor perkebunan.
Dalam pelaksanaannya, Solidaridad bersama DP3A dan instansi ketenagakerjaan telah melakukan kunjungan serta penguatan di enam perusahaan perkebunan di Kutim.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat, serikat pekerja, dan mitra pembangunan dapat terus berlanjut.
Kegiatan itu diikuti Plt Sekretaris DP3A Kutim Rita Winarni dan jajaran, perwakilan Dinas Perkebunan Kutim, perwakilan Bappeda, perusahaan perkebunan, HRD, komite gender, serikat pekerja, LSM/NGO, dan pekerja perempuan, serta jajaran narasumber, anggota DPRD Kutim Komisi D Ahmad Sulaiman, perwakilan Disnakertrans Kaltim Yulianti Bandu, akademisi Universitas Mulawarman Yuli Nurdiana, perwakilan DP3A Kutim Femmy Macawalang, moderator dari P2KGPA Unmul Sulung Nugroho.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh empat narasumber yang membahas isu gender, norma kerja layak, perlindungan pekerja perempuan, serta perspektif pembangunan dan kebijakan. (tg)

























