Beranda Kutai Timur Air Minum dan Kesenjangan Kesejahteraan Rakyat

Air Minum dan Kesenjangan Kesejahteraan Rakyat

12755
0

Oleh : Syukri M Nur
Staf pengajar di Program Magister Energi Terbarukan, Universitas Darma Persada, Jakarta dan Fellowship di DBFZ Jerman

Air bersih apalagi air minum kini semakin mahal. Pernyataan ini bukanlah isapan jempol semata. Fakta ini telah tampak ketika penulis berada di Leipzig Jerman, di bulan Juni 2022. Penulis membeli sebotol air minum berukuran ½ liter dengan harga 2 Euro atau setara dengan Rp 30.000 per setengah liter. Berarti harga air minum telah menjadi 4 Euro (Rp 60.000,-) untuk satu liter. Jika kebutuhan air minum untuk manusia sebanyak 2,5 liter maka diperlukan biaya Rp 150.000 per hari. Sebuah kondisi kehidupan manusia yang memerlukan biaya yang sangat mahal. Kondisi ini akan memaksa goyah kesejahteraan manusia karena harus mampu mengimbangi pengeluarannya yang besar dengan pendapatannya yang juga harus besar. Berimplikasi lanjut pada pada pertanyaan apakah jargon keberlanjutan (sustainability) atau bahkan sustainability development itu masih mampu bertahan?

Air minum dalam kemasan berukuran 0,5 liter seharga 2 Euro (Rp30.000,-)

Kenapa air minum semakin mahal?
Harga air minum semakin mahal karena air ikut menanggung biaya pemeliharaan lingkungan. Boleh jadi harga mahal itu adalah akumulasi biaya dari biaya produksi di pabrik, kemasan, distribusi promosi, dan biaya daur ulang kemasan untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh lingkungan akibat sampah plastik dari air minuman kemasan. Lingkungan yang semakin tercemar oleh limbah industri, rumah tangga dan aktivitas lainnya telah menuntut biaya perbaikan yang mahal.

Lalu pertanyaannya, apakah negeri yang dikelilingi oleh laut dan sinar matahari akan ikut mengalami kelangkaan air bersih apalagi air minum untuk rakyatnya? Fakta dan sederetan pertanyaan yang terkesan hidup pesimis ini akan saya titipkan untuk Perencana dan Pelaksana Ibukota Baru Indonesia di Kalimantan.

Anggaplah harga air minum yang terjadi di Jerman itu adalah momentum yang akan dilalui oleh IKN (Ibukota Kota Negara) Indonesia dalam rentang puluhan tahun mendatang. Jika momentum itu terjadi, maka tak elok kita memakai kata keberlanjutan. Tak pantas pula kita memakai kata kesejahteraan. Karena kata keberlanjutan itu bermakna bukan hanya mampu menjamin kebutuhan generasi sekarang namun juga wajib mampu menjamin generasi mendatang memenuhi kebutuhan primer plus kebutuhan pendukungnya. Makna tambahannya adalah kata sustainability harus bersanding dengan kata welfare (sejahtera).

Strategi dan upaya harus segera diwujudkan oleh Otorita IKN untuk menghindari harga air minum yang mahal. Mulai dari upaya mempertahankan layanan ekosistem pada wilayah yang sumber bahan baku air minum, menggunakan sistem pengolah dan distribusi air minum, serta kemasan yang akrab lingkungan. Bahkan membangun regulasi dan kebijakan yang berpijak pada kepentingan rakyat terhadap kebutuhan primer ini. Karena dengan cara ini maka negara mampu berperan dan hadir dalam kehidupan berbangsa.

Mesin otomatis penjual minuman dan makanan ringan, termasuk air minum dalam kemasan.

Leipzig, Jerman 6 Juni 2022.

Artikulli paraprakJimmy Harap Pengurus Baru STIPER Berintegritas dan Mampu Berkreatifitas
Artikulli tjetërDisnaker Diminta Siapkan Naker Terampil

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini