Satumejanews.id. SAMARINDA — Ada pemandangan yang sukses meruntuhkan nalar konsumerisme publik di tengah hiruk-pikuk Samarinda Square Mall, Jalan M. Yamin, Gn. Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Selasa (11/8/2026). Di saat pusat perbelanjaan lazimnya dipenuhi riuh transaksi komersial dan gaya hidup hedonis, ruang publik tersebut secara mengejutkan disulap menjadi pusat kekhusyukan spiritual.
Sebanyak 18 siswa pilihan SMK Medika Samarinda dengan berani mengguncang pusat perbelanjaan lewat gelaran Khataman Al-Qur’an untuk kedua kalinya. Para pelajar ini seolah menampar keras anggapan bahwa generasi muda masa kini telah tercerabut dari akar religiusitasnya.
Aksi yang lahir dari rahim seleksi ketat terhadap 40 peserta pembinaan ini bukan sekadar agenda seremonial biasa. Kepala SMK Medika Samarinda, Mus Mulyadi, dengan tegas menyatakan bahwa langkah ini adalah sebuah pernyataan sikap: dunia pendidikan vokasi tidak boleh terjebak dalam orientasi materialistis semata.
“Kami ingin anak-anak memiliki keberanian untuk menunjukkan kecintaannya terhadap Al-Qur’an. Mall bukan hanya tempat untuk berbelanja, tetapi juga bisa menjadi tempat menghadirkan kegiatan yang memberikan nilai edukasi dan dakwah,” ungkap Mus Mulyadi di lokasi kegiatan.
Pemilihan lokasi di jantung pusat perbelanjaan modern ini dinilai sebagai strategi dakwah yang provokatif dan mendobrak batasan konvensional. Sekolah ingin membuktikan bahwa syiar Islam tidak harus bersembunyi di balik tembok masjid atau ruang kelas yang kaku, melainkan harus hadir secara vulgar dan membanggakan di tengah keramaian zaman.
Mus Mulyadi juga mengingatkan agar esensi dari khataman ini tidak berhenti pada seremoni tepuk tangan. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga agar para siswa tetap konsisten menjadikan kitab suci sebagai kompas moral di tengah gempuran modernitas.
Keberanian frontal yang ditunjukkan SMK Medika Samarinda ini langsung menuai sorotan tajam sekaligus apresiasi tinggi dari kalangan ulama. Ketua Komisi Dakwah MUI Kaltim, KH Ahsanur Ahmad, menilai langkah tersebut sebagai antitesis yang sangat dibutuhkan di tengah laju degradasi moral generasi muda saat ini.
Menurutnya, sudah saatnya dogma bahwa “agama hanya untuk di rumah atau masjid” segera dikubur dalam-dalam. Nilai Al-Qur’an wajib merembes dan memimpin ruang-ruang publik yang selama ini steril dari nilai spiritual.
“Khataman Al-Qur’an jangan dimaknai hanya sebagai tanda bahwa kita telah selesai membaca Al-Qur’an. Yang lebih penting adalah bagaimana Al-Qur’an itu membentuk akhlak dan perilaku kita,” tegas Ahsanur Ahmad.
Ia menambahkan, memberikan ruang bagi anak muda untuk unjuk gigi membawa nilai-nilai keagamaan di tempat terbuka adalah tamparan telak bagi pandangan pesimis yang kerap menyudutkan generasi Z dan milenial.
Aksi 18 siswa SMK Medika di Samarinda Square Mall hari ini telah mencatatkan preseden baru: bahwa kemajuan zaman dan teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk menanggalkan identitas spiritual. Di bawah beringasnya arus modernitas mall, lantunan ayat suci terbukti mampu menghentikan sejenak langkah manusia modern, memaksa mereka merenung, dan mempertanyakan ulang arah peradaban generasi masa kini.(*/mn)

























