Beranda Nasional Bridge Masuk Institusi: Berhentilah Menjual Bridge!

Bridge Masuk Institusi: Berhentilah Menjual Bridge!

134
0

Oleh: Bert Toar Polii

Judul di atas mungkin terdengar aneh, bahkan provokatif. Bagaimana mungkin kita ingin mengembangkan bridge tetapi justru menyarankan agar berhenti menjual bridge?

Namun setelah menyaksikan presentasi program “Bridge Masuk Institusi” yang digagas Ketua Pengkot GABSI Jakarta Pusat, Didi Andries, saya semakin yakin bahwa selama ini kita mungkin menggunakan pendekatan yang kurang tepat dalam memasarkan olahraga yang kita cintai ini.

Selama puluhan tahun, komunitas bridge Indonesia hampir selalu menggunakan cara yang sama.

Kita menjelaskan bahwa bridge adalah olahraga pikiran. Kita bercerita bahwa bridge dimainkan di lebih dari seratus negara. Kita menyebutkan bahwa bridge dipertandingkan dalam berbagai ajang internasional. Kita menunjukkan sederet prestasi atlet Indonesia.

Semua itu benar. Masalahnya, masyarakat tidak membeli kebenaran. Masyarakat membeli manfaat.

Ketika seorang direktur perusahaan mendengar presentasi tentang bridge, apa yang ada di pikirannya?

Bukan World Bridge Championships. Bukan medali SEA Games. Bukan juga ranking dunia.

Yang ada di pikirannya adalah: “Apa untungnya bagi perusahaan saya?” “Apa manfaatnya bagi karyawan saya?” “Mengapa saya harus mengeluarkan waktu dan biaya untuk ini?”

Dan jujur saja, kita sering gagal menjawab pertanyaan itu dengan bahasa yang mereka pahami. Kita Terlalu Sering Berbicara tentang Bridge

Kesalahan terbesar komunitas bridge selama ini mungkin adalah terlalu sering berbicara tentang bridge.

Padahal yang ingin didengar calon pemain bukanlah bridge. Yang ingin mereka dengar adalah tentang diri mereka sendiri.

Seorang manajer ingin meningkatkan kualitas timnya. Seorang direktur HR ingin membangun kolaborasi antar karyawan. Seorang CEO ingin menciptakan budaya pengambilan keputusan yang lebih baik. Seorang rektor ingin mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis. Seorang kepala sekolah ingin siswanya lebih disiplin dan mampu bekerja sama.

Mereka tidak sedang mencari permainan kartu. Mereka sedang mencari solusi. Dan di sinilah bridge sebenarnya memiliki keunggulan yang luar biasa.

Bridge Adalah Simulasi Dunia Kerja. Jika dipikir-pikir, tidak banyak aktivitas yang mampu mensimulasikan dunia kerja sebaik bridge. Dalam bridge, kita harus membuat keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Bukankah itu yang dilakukan para manajer setiap hari?

Dalam bridge, kita harus mempercayai partner. Bukankah itu inti dari kerja tim? Dalam bridge, kita harus mengelola risiko. Bukankah itu inti dari bisnis?

Dalam bridge, kita harus tetap tenang saat berada di bawah tekanan. Bukankah itu yang dibutuhkan setiap pemimpin? Dalam bridge, kita harus jujur meskipun tidak ada yang mengawasi. Bukankah itu inti dari integritas?

Kalau dipikir lebih jauh, bridge bukan sekadar permainan. Bridge adalah laboratorium kepemimpinan yang dikemas dalam bentuk olahraga pikiran.

Stigma yang Tidak Pernah Hilang. Ada satu kenyataan yang harus kita akui. Kata “kartu” masih menjadi hambatan besar.

Bagi banyak orang yang belum mengenal bridge, permainan kartu sering langsung diasosiasikan dengan perjudian.

Kita boleh tidak setuju. Kita boleh marah. Tetapi persepsi publik tidak berubah hanya karena kita membantahnya.

Karena itu saya melihat pendekatan yang digunakan dalam program Bridge Masuk Institusi sangat cerdas.

Mereka tidak datang dengan slogan: “Ayo bermain bridge.” Mereka datang dengan pesan: “Mari meningkatkan kompetensi SDM melalui olahraga pikiran.”

Bridge tidak lagi menjadi produk utama. Bridge menjadi alat. Dan justru karena itulah peluang diterimanya menjadi jauh lebih besar.

Belajar dari Dunia Korporasi. Perusahaan-perusahaan besar tidak menjual produk.

Mereka menjual manfaat. Orang tidak membeli bor karena menyukai bor. Mereka membeli lubang yang bisa dibuat oleh bor tersebut. Orang tidak membeli mobil karena menyukai mesin. Mereka membeli kemudahan mobilitas.

Orang tidak membeli asuransi karena menyukai polis. Mereka membeli rasa aman. Begitu pula dengan bridge. Masyarakat tidak membeli bidding system. Mereka tidak membeli konvensi.

Mereka tidak membeli teknik declarer play. Mereka membeli kemampuan berpikir. Mereka membeli kerja sama tim. Mereka membeli pengendalian emosi. Mereka membeli kemampuan mengambil keputusan. Mereka membeli jaringan sosial. Mereka membeli pengembangan diri.

Bridge hanyalah kendaraan yang mengantarkan mereka ke sana. Mungkin Ini yang Selama Ini Kita Cari. Selama bertahun-tahun komunitas bridge bertanya: “Mengapa sulit mendapatkan pemain baru?” “Mengapa generasi muda tidak tertarik?” “Mengapa perusahaan tidak melirik bridge?”

Mungkin jawabannya bukan karena bridge kurang menarik. Mungkin kita hanya menjualnya dengan cara yang salah. Program Bridge Masuk Institusi menawarkan sudut pandang baru.

Alih-alih mempromosikan permainan, program ini mempromosikan manfaat. Alih-alih mengundang orang masuk ke dunia bridge, program ini membawa bridge masuk ke dunia mereka.

Perbedaannya tampak sederhana. Tetapi dampaknya bisa sangat besar. Saatnya Mengubah Cara Berpikir. Saya melihat program ini bukan sekadar program Pengkot GABSI Jakarta Pusat.

Saya melihatnya sebagai model yang bisa direplikasi oleh Pengprov, Pengcab, bahkan klub-klub bridge di seluruh Indonesia.

Bayangkan jika setiap daerah mulai menawarkan bridge sebagai sarana pengembangan SDM kepada perusahaan, universitas, sekolah, BUMN, instansi pemerintah, dan organisasi profesi.

Bayangkan jika bridge mulai dikenal sebagai alat pelatihan kepemimpinan, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan.

Jumlah pemain baru yang lahir dari pendekatan seperti ini bisa jauh lebih besar dibandingkan promosi konvensional yang selama ini kita lakukan.

Karena itu, setelah menyaksikan presentasi semalam, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:

Jika ingin bridge berkembang lebih cepat, mungkin sudah waktunya kita berhenti menjual bridge.

Mulailah menjual manfaat yang hanya bisa diberikan oleh bridge. Dan ketika orang datang mencari manfaat itu, mereka akan menemukan bridge dengan sendirinya. ***