Beranda Nasional Membayangkan Jalannya Kongres GABSI XIX di Mamuju, Catatan Seorang yang Telah Mengikuti...

Membayangkan Jalannya Kongres GABSI XIX di Mamuju, Catatan Seorang yang Telah Mengikuti Delapan Kongres GABSI

117
0

Oleh: Bert Toar Polii

“Pengalaman adalah guru terbaik.” Pepatah itu terasa sangat relevan ketika saya mencoba membayangkan bagaimana jalannya Kongres GABSI XIX di Mamuju.

Selama kurang lebih 36 tahun menjadi bagian dari Pengurus Besar GABSI, saya berkesempatan mengikuti delapan Kongres GABSI. Masing-masing memiliki suasana, dinamika, dan tantangan yang berbeda. Ada kongres yang berlangsung tenang dan penuh musyawarah, ada pula yang diwarnai perdebatan panjang sebelum akhirnya mencapai mufakat.

Namun, dari semua kongres yang pernah saya ikuti, ada satu kesamaan yang selalu saya rasakan. Kongres bukan sekadar memilih Ketua Umum. Kongres adalah forum tertinggi organisasi untuk menentukan arah perjalanan bridge Indonesia selama empat tahun berikutnya.

Karena itu, tulisan ini bukan untuk mendahului jalannya persidangan, apalagi memprediksi hasilnya. Saya hanya ingin mengajak para pecinta bridge, khususnya peserta yang baru pertama kali mengikuti kongres, membayangkan bagaimana kira-kira jalannya Kongres GABSI XIX berdasarkan rancangan acara yang telah disusun panitia dan pengalaman saya mengikuti kongres-kongres sebelumnya.

Sidang Dimulai dari Aturan Main. Setelah registrasi peserta selesai, sidang akan dibuka secara resmi. Agenda pertama yang sangat penting adalah Pengesahan Tata Tertib Sidang.

Mungkin ada yang menganggap acara ini hanya formalitas. Padahal, di sinilah fondasi seluruh persidangan diletakkan. Tata tertib mengatur hak dan kewajiban peserta, tata cara berbicara, mekanisme pengambilan keputusan, hingga prosedur pemungutan suara apabila diperlukan.

Seluruh proses berikutnya harus berjalan berdasarkan tata tertib yang telah disepakati bersama. Tim Perumus Mulai Bekerja Sejak Awal

Salah satu hal yang menarik dalam Kongres GABSI XIX adalah Tim Perumus ditetapkan segera setelah Tata Tertib Sidang disahkan.

Susunan acara ini menunjukkan bahwa Tim Perumus bukan sekadar bertugas merumuskan hasil sidang komisi pada akhir kongres. Sejak awal persidangan mereka telah bekerja.

Mereka mengikuti seluruh jalannya sidang, menyusun notulen, mencatat keputusan-keputusan yang diambil, mendokumentasikan Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum, merangkum Pandangan Umum Pengurus Provinsi, menyiapkan bahan untuk tanggapan PB GABSI, sekaligus mulai menyusun konsep Surat Keputusan Kongres.

Pengalaman saya mengikuti beberapa kongres menunjukkan bahwa keberadaan Tim Perumus sering tidak terlihat oleh peserta, tetapi justru menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah kongres. Tanpa dokumentasi dan perumusan yang baik, keputusan kongres dapat menimbulkan berbagai penafsiran.

Laporan Pertanggungjawaban. Agenda berikutnya adalah penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum PB GABSI.Forum ini merupakan bentuk akuntabilitas pengurus kepada seluruh anggota organisasi.

Peserta akan mendengarkan penjelasan mengenai pelaksanaan program kerja selama masa bakti yang berakhir, termasuk pembinaan atlet, penyelenggaraan kejuaraan, pengembangan organisasi, hubungan internasional, pendidikan pelatih dan wasit, serta berbagai kegiatan lainnya.

Pandangan Umum Pengurus Provinsi.

Setelah laporan disampaikan, setiap Pengurus Provinsi memperoleh kesempatan menyampaikan pandangan umum. Inilah forum tempat suara daerah didengar secara langsung.

Ada yang memberikan apresiasi, ada yang menyampaikan kritik, dan ada pula yang mengusulkan perubahan untuk memperkuat organisasi.

Sebagai seseorang yang telah mengikuti delapan kongres, saya selalu menikmati sesi ini. Dari sinilah kita mengetahui berbagai persoalan nyata yang dihadapi daerah sekaligus berbagai inovasi yang berhasil mereka lakukan.

Tanggapan PB GABSI. Sebelum memasuki agenda berikutnya, PB GABSI memberikan tanggapan terhadap seluruh pandangan umum yang telah disampaikan. Menurut saya, sesi ini sangat penting.

Di sinilah pengurus menjelaskan berbagai pertanyaan, memberikan klarifikasi terhadap kritik yang muncul, serta menjawab usulan-usulan yang berkembang dalam sidang.

Sering kali suasana menjadi lebih cair setelah sesi ini karena peserta memperoleh penjelasan langsung mengenai berbagai persoalan yang sebelumnya masih menjadi tanda tanya.

Memilih Ketua Umum. Setelah seluruh tahapan pleno tersebut selesai, kongres memasuki agenda yang paling ditunggu, yaitu pemilihan Ketua Umum PB GABSI.

Inilah saat peserta menentukan siapa yang akan memimpin organisasi selama empat tahun ke depan.

Namun, saya selalu berpendapat bahwa memilih Ketua Umum bukanlah akhir dari kongres. Justru sesudah itulah pekerjaan besar dimulai.

Dua Komisi, Satu Tujuan. Setelah Ketua Umum terpilih, peserta memasuki Sidang Komisi. Sesuai rancangan acara, hanya ada dua komisi, yaitu Komisi Program dan Komisi Teknik.

Komisi Program membahas apa yang akan dikerjakan GABSI selama empat tahun mendatang.

Komisi Teknik membahas aturan, ketentuan, dan berbagai aspek teknis yang diperlukan agar seluruh program tersebut dapat dilaksanakan secara baik dan konsisten.

Walaupun hanya terdiri atas dua komisi, hampir seluruh kebijakan strategis organisasi lahir dari forum inilah.

Rumusan Keputusan Kongres. Setelah sidang komisi selesai, Tim Perumus menyelesaikan tugas akhirnya.

Seluruh hasil pembahasan disusun menjadi naskah keputusan kongres beserta konsep Surat Keputusan Kongres yang kemudian dibawa ke sidang pleno untuk memperoleh pengesahan.

Tahapan ini memastikan bahwa setiap keputusan tidak hanya disepakati, tetapi juga terdokumentasi dengan baik sebagai pedoman resmi organisasi.

Penutupan yang Menjadi Awal. Setelah seluruh keputusan disahkan, Kongres GABSI XIX ditutup. Namun, bagi saya, penutupan kongres tidak pernah berarti akhir.

Justru saat itulah seluruh keputusan mulai diuji dalam kehidupan nyata organisasi.

Program kerja harus dilaksanakan, rekomendasi harus diwujudkan, dan berbagai harapan yang disampaikan Pengurus Provinsi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Sebuah Harapan untuk Mamuju.

Selama tiga puluh enam tahun mengikuti perjalanan PB GABSI, saya menyaksikan organisasi ini terus berkembang. Setiap kongres meninggalkan jejak sejarahnya masing-masing.

Karena itu, saya berharap Kongres GABSI XIX di Mamuju bukan hanya berlangsung lancar, tetapi juga melahirkan keputusan-keputusan yang memperkuat organisasi, mempercepat pembinaan prestasi, memperluas regenerasi pemain, serta menyiapkan bridge Indonesia menghadapi tantangan masa depan.

Sejarah memang akan mencatat siapa yang terpilih sebagai Ketua Umum.

Namun, sejarah juga akan mencatat keputusan-keputusan yang diambil di Mamuju.

Dan mudah-mudahan, keputusan-keputusan itulah yang kelak dikenang sebagai tonggak kemajuan baru bagi. ***