Beranda Kominfo Kutim Untuk Bentuk Karakter Peserta Didik, Sekolah Harus Menciptakan Anak Aman, Nyaman dan...

Untuk Bentuk Karakter Peserta Didik, Sekolah Harus Menciptakan Anak Aman, Nyaman dan Ramah

360
0

Satumejanews.id. KUTAI TIMUR – Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan ramah bagi anak menjadi bagian proses pendidikan yang baik. Hal ini menjadi salah satu budaya yang harus dilakukan di setiap sekolah maupun satuan Pendidikan di Kutai Timur (Kutim).

“Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk menciptakan Seklah Ramah Anak (SRA), guna mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA di daerah ini ke depannya. Sekolah memiliki kewajiban untuk memastikan setiap anak mendapatkan lingkungan belajar yang ramah, terlepas dari ada atau tidaknya predikat sebagai sekolah ramah anak,” ujar Plt Kepala Dinas PPPA Kutim Idham Cholid.

Menurutnya, jika sekolah itu tidak ramah anak, sepintar apa pun guru kalau kondisi sekolah tidak ramah terhadap anak, maka anak akan cenderung tidak nyaman di sekolah.

Dikatakan, rasa nyaman menjadi salah satu pintu masuk penting dalam proses pembelajaran. Ketika anak merasa nyaman dengan guru maupun lingkungan sekolah, proses penyampaian materi hingga pembentukan karakter akan lebih mudah dilakukan.

“Harus nyaman dulu di sekolah itu. Kalau sudah nyaman, baru guru memasukkan strategi-strategi di bidang kognitif, menyampaikan materi, menyampaikan pendidikan dan lain sebagainya,” katanya.

Idham menambahkan, hubungan yang baik antara peserta didik dengan guru serta lingkungan sekolah juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter. Karena itu, penerapan sekolah ramah anak tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga bagaimana seluruh unsur di sekolah membangun interaksi yang positif dengan peserta didik.

“Kalau sudah nyaman dengan gurunya, dengan lingkungannya, maka nanti akan sangat mudah bagi bapak-ibu guru itu untuk membentuk karakter peserta didik,” jelasnya.

Ia menyebut setiap satuan pendidikan dapat memiliki strategi berbeda dalam mencapai tujuan pendidikan. Perbedaan pendekatan tersebut, menurutnya, merupakan hal yang wajar karena setiap sekolah memiliki kondisi dan kebutuhan masing-masing.

“Masing-masing sekolah itu kan memiliki strategi masing-masing dalam rangka pencapaian tujuan atau target yang ada di satuan pendidikan masing-masing. Ada yang strateginya A, strateginya B, itu boleh-boleh saja,” tuturnya.

Namun demikian, Idham menegaskan bahwa perbedaan strategi tersebut tetap diarahkan pada tujuan yang sama, yakni menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak sekaligus membentuk peserta didik dengan karakter yang baik.

“Goal-nya nanti kan sama semua itu, bagaimana anak kita itu punya karakter yang bagus,” pungkasnya. (adv/sm2)