Beranda Kutai Timur DPPKB Berikan Edukasi dan Pendampingan terhadap KRS di Telen

DPPKB Berikan Edukasi dan Pendampingan terhadap KRS di Telen

442
0

Satumejanews.id. KUTAI TIMUR – Guna menekan risiko stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus diperkuat melalui layanan jemput bola. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim turun langsung ke Kecamatan Telen untuk memberikan edukasi, pendampingan, sekaligus intervensi kepada keluarga berisiko stunting (KRS), Rabu (26/8/2026) siang.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Camat Telen, Desa Juk Ayaq, tersebut merupakan implementasi Program Unggulan Bupati Kutai Timur Prioritas Nomor 22, yakni Layanan Jemput Bola Stop Stunting.

Plh Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah T, mengatakan layanan jemput bola dilakukan dengan mendatangi langsung keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting berdasarkan data lapangan. “DPPKB itu mendata keluarga yang berisiko stunting. Ketika sudah terkena stunting, penanganan dan eksekusinya menjadi ranah Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 482 KK berisiko stunting di Kecamatan Telen. Jumlah tersebut tersebar di delapan desa, dengan kasus tertinggi berada di Desa Muara Pantun sebanyak 148 KK, disusul Desa Juk Ayaq 98 KK dan Desa Lung Melah 75 KK. Sementara itu, Desa Nehes Marah Haloq tercatat 44 KK, Desa Kernyanyan 43 KK, Desa Long Noran 39 KK, Desa Long Segar 18 KK dan Desa Rantau Panjang 17 KK.

Dalam kegiatan tersebut, DPPKB Kutim juga menyerahkan bantuan makanan tambahan (PMT) dari Baznas Kutai Timur secara simbolis kepada sejumlah keluarga berisiko stunting. Bantuan tersebut diberikan untuk periode Juni, Juli dan Agustus, sementara penyaluran berikutnya akan diteruskan melalui petugas PLKB di wilayah Kecamatan Telen.

Yuriansyah menegaskan, penanganan KRS tidak cukup hanya melalui bantuan makanan. Faktor lain seperti akses air bersih, sanitasi, rumah layak huni, kondisi balita, tingkat kesejahteraan keluarga hingga penggunaan kontrasepsi perlu mendapat perhatian.

Salah satu keluarga yang dikunjungi ialah keluarga ibu Rima di Desa Muara Pantun yang memiliki anak dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pemetaan keluarga berisiko stunting.

Pria kelahiran 1971 tersebut menambahkan, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah desa, PKK, perusahaan, tenaga kesehatan, PLKB, hingga masyarakat diharapkan aktif melaporkan dan membantu keluarga yang membutuhkan.

“Tidak mungkin pekerjaan menangani keluarga risiko stunting dilakukan sendiri-sendiri. Harus melalui kolaborasi semua pihak,” pungkasnya.

Selain pemberian PMT, Kabid Pengendalian Penduduk DPPKB Kutim, Tristiningsih, memberikan materi mengenai layanan penanganan KRS. Sementara Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, Ani Saida, memaparkan perkembangan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting (Genting).

Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum Kecamatan Telen, Andi Sultiana Sultan, yang mewakili Camat Telen, mengapresiasi pelaksanaan layanan jemput bola tersebut. Menurutnya, pendekatan langsung ke desa membuat keluarga sasaran memperoleh edukasi dan pendampingan secara lebih optimal.

“Kami mendukung upaya penanganan ini sehingga keluarga berisiko stunting di wilayah Telen dapat berkurang dan percepatan penurunan stunting di Kutai Timur terus ditingkatkan,” imbuhnya.

Kegiatan itu turut dihadiri Forkopimcam Telen, para kepala desa, Penyuluh KB, Kabid Penyuluhan dan Penggerakan Yunita Ronting, Kabid Keluarga Berencana Mustika, perwakilan DPMDes Nurholis, stakeholder, serta pejabat fungsional DPPKB Kutim. (*/sm4)