Beranda Kutai Timur Peran Penyuluh KB Sangat Penting terhadap Upaya Penurunan Stunting

Peran Penyuluh KB Sangat Penting terhadap Upaya Penurunan Stunting

343
0

Satumejanews.id. SANGATTA – Peringatan Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada 7 April 2026 menjadi momentum refleksi bagi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kutai Timur. Lewat podcast “Bangga Kencana” pada Rabu (8/4/2026) di Kantor tersebut, suara-suara dari lapangan mengalir jujur tentang perjuangan sunyi para penyuluh KB yang berada di garis depan pencegahan stunting.

Bukan sekadar obrolan santai, episode ini membuka tabir realitas yang kerap luput dari perhatian publik. Stunting, yang masih sering dipahami sebagai sekadar “anak pendek”, sejatinya adalah ancaman jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Di sinilah peran penyuluh KB menjadi penting dengan mengedukasi, mendampingi, sekaligus menghadapi tantangan sosial yang kompleks.

Falia Ali Zaratustra, penyuluh KB Sangatta Selatan, menggambarkan medan kerja yang tak selalu ramah. Ia pernah menempuh perjalanan hingga dua setengah jam dengan sepeda motor setiap hari saat bertugas di Teluk Pandan. Jalan rusak, hujan, bahkan risiko keselamatan menjadi bagian dari rutinitas. “Dulu terasa biasa saja, tapi sekarang kalau diingat, ternyata berat juga,” ujarnya.

Pengalaman ekstrem lainnya terjadi saat ia harus menyeberang menggunakan perahu demi menjangkau wilayah pesisir. Jalan kayu rapuh membuatnya terjatuh ke lumpur, dengan bayangan ancaman buaya di benaknya. Namun, bagi Falia, semua itu kini menjadi cerita yang menguatkan bahwa setiap kesulitan dapat dilalui.

Cerita serupa datang dari Monika Apriani Simbolon, penyuluh KB Sangatta Utara. Ia pernah terjatuh dari motor saat mengejar waktu menuju lokasi kegiatan. Ironisnya, warga sekitar mengira suara benturan itu hanyalah galon air jatuh. “Waktu itu sakit, tapi sekarang jadi cerita lucu,” katanya.

Di balik kisah-kisah tersebut, tersimpan persoalan mendasar. Data keluarga risiko stunting (KRS) di Sangatta Utara mencapai ribuan, dengan berbagai indikator mulai dari akses air bersih, sanitasi, hingga pola pengasuhan. Sementara di Sangatta Selatan, tantangan utama justru terletak pada pola konsumsi dan persepsi masyarakat terhadap keluarga berencana.

“Banyak yang masih takut dengan KB, padahal ini penting untuk mencegah risiko stunting,” kata Falia.

Upaya kolaborasi lintas sektor mulai menunjukkan hasil. Bantuan jamban sehat, akses air bersih melalui kerja sama dengan PDAM, hingga intervensi pendidikan bagi keluarga rentan menjadi bukti nyata bahwa pendampingan tidak sia-sia.

Namun, pekerjaan ini jauh dari kata selesai. Di balik capaian yang ada, para penyuluh tetap berjuang menembus jarak, mengikis stigma, dan menanamkan harapan. Mereka bukan sekadar petugas lapangan, melainkan penjaga masa depan generasi. (sm4)