Oleh : Bert Toar Polii
Ada pemimpin yang meninggalkan jejak dalam bentuk gedung, angka, atau kekuasaan. Namun ada pula yang meninggalkan sesuatu yang lebih sunyi—tetapi justru lebih abadi: pohon.
Ketika Bambang Hartono mulai menanam pohon di Kudus sekitar tahun 1970, ia tidak sedang mengikuti tren. Bahkan, saat itu belum ada istilah “keberlanjutan” atau “green movement” seperti hari ini. Apa yang ia lakukan lahir dari kesadaran personal yang dalam: bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap ruang hidupnya.
Inilah bentuk kepemimpinan yang sering kita abaikan. Kepemimpinan yang tidak berisik, tidak menuntut pengakuan, tetapi konsisten dan berdampak jangka panjang.
Hari ini, banyak program penghijauan digelar dengan seremoni besar, tetapi sering kehilangan ruh. Kita lupa bahwa perubahan sejati tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Bambang Hartono telah menunjukkan bahwa menanam pohon bukan sekadar aktivitas lingkungan—melainkan pernyataan nilai. Bahwa membangun kota tidak cukup dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan akar yang menancap ke bumi.
Pertanyaannya: apakah kita masih memiliki kesabaran untuk menanam sesuatu yang hasilnya mungkin tidak kita nikmati?
Mohon maaf partner, ketika tukang bridge saat ini melanggar janji untuk tidak mempublikasikan hal-hal mengenai dirimu.***


























