Satumejanews.id. SANGATTA – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dr Yuwana Sri Kurniawati siap mendukung penuh visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati, khususnya dalam penguatan sektor kesehatan.
Hal ini disampaikannya usai dlantik oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, di runag Meranti, Kantor Bupati, Rabu (17/12/2025). Ia Bersama sejumlah pejabat Tinggi Pratama dan Fungsional diambil sumpah.janji.
“Saya siap mendukung visi misi Bupati dan Wakil Bupati, khususnya kebijakan-kebijakan di bidang kesehatan,” ujarnya.
Salah satu persoalan paling mendasar yang langsung menjadi perhatiannya adalah kurangnya tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis di wilayah pedalaman. Kondisi ini dinilai masih menjadi tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan di 18 kecamatan yang ada di Kutim.

Untuk menjawab persoalan tersebut, melalui Dinkes, ia akan mengoptimalkan program dokter keliling, yang merupakan salah satu program unggulan kepala daerah. Program ini dirancang dengan sistem penjadwalan, di mana dokter-dokter spesialis dari wilayah perkotaan akan bergiliran melakukan pelayanan di kecamatan-kecamatan.
“Dokter tidak diwajibkan menetap di pedalaman. Skema yang disiapkan adalah kunjungan berkala, misalnya satu kali dalam sebulan, dengan jadwal yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah” Jelasnya.
Selain itu, Dinkes juga akan menggandeng organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), serta organisasi kefarmasian dalam berbagai kegiatan bakti sosial dan pelayanan kesehatan spesifik, seperti operasi katarak dan layanan spesialis lainnya.
“Kasus-kasus kesehatan akan kita petakan. Setiap kecamatan berbeda kebutuhannya, jadi layanan dokter spesialis yang datang juga akan disesuaikan dengan kondisi dan urgensi masing-masing wilayah,” terangnya.
Terkait program prioritas, Yuwana menyebut Dinkes mengampu lima program unggulan dari total 50 program Bupati dan Wakil Bupati Kutim. Program tersebut meliputi dukungan bagi tenaga kesehatan, peningkatan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan, pemberian susu dan buah untuk pencegahan stunting, serta pemantapan layanan BPJS Kesehatan melalui Universal Health Coverage (UHC), serta pelaksanaan program dokter keliling.

Saat ditanyai mengenai penanganan stunting, Yuwana mengakui angka stunting di Kutim masih berada di atas rata-rata nasional, meskipun telah mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, penanganannya tidak bisa dibebankan kepada Dinas Kesehatan semata.
“Stunting ini harus ditangani lintas sektor, mulai dari DPPKB, DPPA, Dinas Pendidikan, Perkim, dan lainnya,” ujarnya.
Dinkes juga akan fokus pada transformasi layanan kesehatan, mulai dari penguatan layanan primer di fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga layanan rujukan di rumah sakit, termasuk pembenahan sarana dan prasarana penunjang.
Dengan berbagai langkah tersebut, Yuwana berharap masyarakat Kutim bisa yuwanasegera merasakan peningkatan kualitas layanan kesehatan yang lebih merata, mudah diakses, dan berkelanjutan. (tg)



























