Plt Kadis PPPA Kutim Idham Cholid

Satumejanews.id. KUTAI TIMUR – Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang baik, aman, nyaman dan ramah, diperlukan pimpinan atau Kepala Sekolah (Kepsek) yang mampu memambangun kolaborasi dan jejaring dengan lingkungan sekitarnya. Kepala sekolah tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik atau kognitif, tetapi juga mampu membangun hubungan dengan masyarakat dan stakeholder.
“Bagaimana pimpinan sekolah itu bisa kolaboratif dengan stakeholder terkait. Kalau sudah menjadi pimpinan, bukan kemampuan kognitif saja yang diperlukan. Bagaimana membangun jejaring dengan lingkungan sekitarnya itu sangat penting,” ujar Plt Kadis PPPA Kutim Idham Cholid.
Langkah tersebut diperlukan, sehingga untuk mewujudkan Kutai Timur (Kutim) menuju Kabupaten Layak Anak (KLA) juga semakin terbuka lebar. Sebab, peranan pimpinan sangat besar dalam meciptakan sekolah yang aman, nyaman dan ramah terhadap peserta didik.
Ia menilai kepala sekolah yang memiliki jejaring kuat dengan lingkungan sekitar akan lebih mudah mendapatkan dukungan masyarakat dalam menjalankan berbagai kebijakan sekolah.
“Jangan sampai sekolah dengan lingkungan sekitarnya, kepala sekolahnya tidak dikenal sama sekali. Untuk bekerja sama kan susah. Membangun jejaring itu mutlak bagi seorang pimpinan satuan pendidikan, sehingga dukungan masyarakat tinggi dan Bapak Ibu mudah melaksanakan kebijakan-kebijakan sekolah,” tandasnya.
Terkait konsep Sekolah Ramah Anak (SRA), Idham Cholid mengatakan, diperlukan diskusi bersama semua pihak. Pihaknya mendorong agar sekolah yang dinilai berhasil menerapkan konsep SRA dapat menjadi lokasi pembelajaran langsung bagi sekolah lainnya.
“Tidak hanya mendengarkan, tapi perlu diskusi. Mungkin di sekolah A sudah menerapkan sekolah ramah anak dengan baik. Praktik baik atau best practice yang sudah dilaksanakan itu nanti disampaikan,” katanya.
Dengan melihat praktik di lapangan, sekolah lain dapat mengetahui bagaimana penerapannya secara nyata, termasuk bagaimana membangun dukungan tanpa selalu bergantung pada besarnya anggaran.
“Kalau belajar teori itu lama. Tapi kalau praktik langsung, sekolah A sudah bagus, langsung saja dilihat bagaimana caranya sekolah itu bisa seperti itu. Apa perlu anggaran besar atau tidak. Biasanya orang langsung melihat anggaran, padahal belum tentu anggaran menjadi jaminan sekolah bisa melaksanakan,” jelasnya. (adv/sm2)























