Calon pembeli ikan Nila yang dibudidayakan di sini.
Satumejanews.id. BARABAI — Kelompok pembudidayaan ikan (Pokdakan) Sumur Candi di Desa Palajau, Kec. Pandawan, Kab. HST, Kalsel, kini siap memulai panenan. Itu seiring datangnya salah satu pembeli dari Kota Barabai yang akan membeli satu kwintal ikan Nila yang dibudidayakan.
”Insya Allah, pada Sabtu malam ini (2/5/2026) atau malam Ahad, kita akan memulai panen. Kebetulan ada pedagang ikan yang datang untuk membeli sebanyak “satu pikul” (1 kwintal = 100 kg),” ucap Ketua Pokdakan Sumur Candi Palajau, Aswan kepada awak media ini.
Berbincang di sela anggotanya melayani calon pembeli hari itu, 30 April 2026, Aswan menyebut, bibit ikan Nila yang dibudidayakan di sini merupakan bibit bantuan Pemkab HST melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) setempat. Bantuan bibit itu diserahkan langsung oleh Bupati HST, Samsul Rizal secara simbolis pada 18 Desember 2025.

Bantuan bibit ikan budidaya ini diketahui merupakan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional di daerah. Sekaligus pula memberdayakan masyarakat HST agar pendapatannya meningkat dan hidup lebih sejahtera.
Berapa banyak bantuan bibit yang dibudidayakan? “Ada 15.000 ekor bibit ikan Nila yang kita tebar dan budidayakan di sini, tapi hanya sebagian kecil saja yang akan kita panen,” jawab Aswan sambil menggendong putrinya.
Pembudidayaan ikan Nila (Oriochromis niloticus) di Pokdakan Sumur Candi Palajau dilakukan dengan sistem kolam buatan berbentuk bundar dengan dilapis terpal plastik. Tidak melalui sistem keramba seperti budidaya umumnya di daerah-daerah aliran sungai (DAS) atau di kolam buatan lainnya.
Pembudidayaan ikan Nila di Pokdakan Palajau ini terpantau menggunakan 19 buah kolam plastik atau semacam tong besar menyerupai sumur. Setiap tong ditaburi 700 — 800 ekor bibit. Sedang kondisi airnya tidak mengalir, kecuali perputaran airnya digerakkan dengan alat pemutar dengan memakai aliran listrik.

Berapa lama pemeliharaan ikan dalam kolam ini? “Idealnya 4-5 bulan sudah bisa panen. Tapi, pembudidayaan kita di sini sempat ada keterlambatan alat pemutar air,” jelas anggota Pokdakan lainnya, Ridha, sambil memberi makan ribuan ikan Nila yang aduhai rebut-rebutan makanan itu.
Aswan yang usahanya sebagai penjual buah musiman khas Kalimantan seperi durian, pampakin (lai) atau cempedak itu menyebut, biaya produksi pemeliharaan dan perawatan ikan ini relatif besar. “Aku hitung-hitung biaya produksi keseluruhan sampai panen mencapai Rp40 juta. Itu di luar biaya listrik yang juga besar,” jelasnya.
Terkait rencana panenan itu sendiri, malam Ini, Aswan bersama anggota kelompoknya membenarkan hanya sebagian kecil yang akan dipanen. Artinya, ikan-ikan itu harus dipilih dulu dari satu kolam ke kolam yang lain dan ukuran beratnya harus 1,5 — 2 ons per ekor.
”Saya ingin, ukuran ikan yang kita panen rata-rata 2 ons per ekor atau 5 ekor per kilonya. Sedang harga jualnya harus Rp30 ribu per kg. Sebab, kalau kurang dari Rp30 ribu per kg, maka kita yang akan rugi,” Aswan menutup bicaranya seperti sudah mengalkulasikan benar untung ruginya dalam proses budidaya ikan Nila di kolam-kolam itu. (adv/jjd).


























