Satumejanews.id SANGATTA — Suasana pagi di kompleks perkantoran PT Kaltim Prima Coal (KPC), Sangatta, memperlihatkan denyut industri tambang yang tertata dan profesional. Deretan bus berukuran besar berjajar rapi di area parkir, siap mengantarkan ribuan karyawan menuju lokasi kerja masing-masing. Ritme mobilisasi itu menjadi bukti bahwa operasi perusahaan berjalan dinamis, namun tetap terkelola dengan baik.
Tidak seperti stereotip kawasan tambang yang gersang, lingkungan kantor KPC justru tampil asri. Pepohonan besar menaungi jalur utama, sementara pedestrian yang bersih memberi kesan nyaman bagi para pegawai yang melintas. Paduan kerapian dan kenyamanan menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga kualitas ruang kerja.
Setibanya di Kantor Pusat, rombongan wartawan disambut oleh jajaran Public Communication—di antaranya Superintendent Public Communication Siswahyudi, Supervisor Guest Relations Ade Anang, serta Officer Media Relations Wahyu Sujatmiko. Sambutan hangat tersebut membuka pertemuan yang menjadi awal dari kunjungan mendalam mengenai operasional perusahaan.
Tak lama berselang, para jurnalis diarahkan menuju Prima Square Area menggunakan sebuah bus operasional. Dalam perjalanan, tim KPC menjelaskan bahwa wilayah tersebut bukan hanya pusat kegiatan tambang, tetapi juga lokasi penerapan program rehabilitasi lingkungan. Area pasca tambang telah ditanami berbagai jenis pohon sebagai upaya mengembalikan ekosistem alam dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi flora, fauna, dan masyarakat.
Setibanya di Prima Square Area, petugas keselamatan kerja memberikan briefing singkat. Keselamatan menjadi prinsip utama, terlihat dari prosedur wajib seperti penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) hingga pengawasan sebelum memasuki unit pengangkut Menhol yang membawa rombongan menuju Pit Bendili Bintang.
“Pastikan sabuk pengaman terpasang. Bila tidak, kendaraan tidak akan diberangkatkan,” tegas salah satu petugas, menekankan standar ketat yang diterapkan di seluruh area tambang.
Sepanjang perjalanan menuju pit, para wartawan disuguhi pemandangan kegiatan tambang yang masif namun teratur. Armada alat berat seperti Liberty HD, water tank, hingga unit Strada bergerak dalam koordinasi, masing-masing dilengkapi bendera perusahaan yang menandai identitas dan keselamatan di jalur hauling.
Di Pit Bendili Bintang, Koordinator Planning, Denas, memaparkan bagaimana perencanaan tambang dilakukan secara bertahap—harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan—untuk memastikan produksi berjalan sesuai target. Ia juga menyebutkan bahwa pit tersebut merupakan salah satu penghasil batu bara terbaik di KPC.
“Pit Bendili memiliki kualitas hasil tambang yang prima, dan seluruh proses produksinya didukung alat berkapasitas besar,” jelasnya.
Saat ini, area tersebut mengoperasikan tiga unit pengeruk berkapasitas 90 ton per baket, sementara armada angkutan batu bara mampu mengangkut sekitar 300 ton dalam sekali perjalanan. Produksi tahunan mencapai 3,1 juta ton. Menariknya, Denas menambahkan bahwa lokasi galian di pit ini termasuk yang terdalam di Indonesia, mencapai kedalaman 400 meter.
Setelah meninjau langsung jantung operasional tambang, rombongan kembali ke Prima Square Area untuk berganti bus dan melanjutkan perjalanan kembali ke kantor utama KPC.
Kunjungan tersebut memberikan gambaran jelas bahwa operasi pertambangan KPC tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga dijalankan dengan standar keselamatan tinggi serta komitmen terhadap pengelolaan lingkungan. Pendekatan ini menjadikan perusahaan sebagai salah satu pelaku industri tambang yang menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan secara nyata di Kutai Timur.(smn3)



























