Tari Jepen yang ditampilkan di ruang sidang Paripurna denagn agenda mendengarkan pidato Bupati Ardiansyah Sulaiman memperingati HUT ke-27 Kutim. (wahyu/satumejanews.id)

Satumejanews.id. KUTAI TIMUR – Sidang paripurna di Gedung DPRD Kutim pada Kamis (8/10/2026) tampak berbeda dari biasanya. Kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim itu, ada nuansa budaya, dengan menampilkan tari Jepen.
Lima penari tampil dengan gerakan yang kompak dan penuh penghayatan, membuat suasana ruang sidang sejenak berubah dari nuansa formal menjadi lebih hangat. Penampilan tersebut pun menyita perhatian para tamu yang hadir.
Berbeda dengan kegiatan serupa tahun-tahun sebelumnya. Sebab, sidang paripurna yang digelar di geudngw akil rakyat lebih banyak berlangsung dalam nuansa formal, dengan agenda utama mendengarkan pidato kepala daerah dan rangkaian seremonial. Tahun ini suasana terasa lebih hidup sejak awal kegiatan.
Sebelum Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan pidatonya, para tamu undangan terlebih dahulu disuguhi penampilan Tari Jepen. Tarian yang lekat dengan budaya masyarakat Kutai tersebut menjadi pembuka yang memberikan warna berbeda dalam agenda resmi peringatan hari jadi daerah.
Bukan sekadar pertunjukan pembuka. Tari Jepen juga menjadi bagian dari tradisi penyambutan tamu sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan seni dan budaya daerah. Kehadirannya di tengah agenda kenegaraan daerah menjadi simbol bahwa pembangunan Kutim tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan kemajuan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana identitas dan warisan budaya tetap ditempatkan sebagai bagian penting dalam perjalanan daerah.
Tari Jepen sendiri dikenal sebagai salah satu seni rakyat Kutai yang dalam perkembangannya kerap ditampilkan pada acara penyambutan tamu dan berbagai momentum penting daerah.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, unsur dan anggota DPRD Kutim, kepala perangkat daerah, para camat, serta undangan lainnya tampak menyaksikan penampilan tersebut dengan penuh perhatian. Gerakan para penari yang berpadu dengan iringan musik tradisional menjadi suguhan pembuka sebelum seluruh peserta kembali mengikuti rangkaian sidang paripurna.
Setelah penampilan Tari Jepen berakhir, suasana kembali memasuki agenda utama. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman kemudian menyampaikan pidato dalam rangka memperingati 27 tahun perjalanan Kabupaten Kutim.
Penyelipan pertunjukan budaya dalam sidang paripurna tahun ini menjadi penanda bahwa peringatan hari jadi daerah tidak semata-mata menjadi agenda seremonial, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kembali identitas Kutim melalui seni dan budaya lokal. (adv/sm2)



























