Satumejanews.id. SANGATTA – Camat Telen Petrus Ivung mengatakan, di wilayahnya masih banyak Anak Tidak Sekolah (ATS), lantaran terkendala kondisi geografis. Sehingga diperlukan kolaborasi semua pihak guna mengatasi masalah tersebut.
“Kondisi geograsi di Telen menjadi kendala utama adanya anak-anak yang putus sekolah. Sehingga sebagian tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya.
Guna mengatasi hal itu menurutnya, diperlukan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sekolah, serta masyarakat. Ia menyebutkan, beberapa desa di Kecamatan Telen memiliki akses yang cukup jauh dari fasilitas pendidikan, sehingga membuat anak-anak enggan atau kesulitan bersekolah.
“Memang masih ada kasus anak putus sekolah di Telen, dan ini tidak bisa kita pungkiri dan maklumi. Salah satu penyebabnya adalah letak pemukiman yang jauh dari sekolah, serta akes jalan yang belum optimal,” jelasnya.
Dirinya menyebut, untuk mengatasi persoalan ATS tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Namun juga seluruh komponen masyarakat, termasuk swasta. Pihaknya sering mengingatkan apabila ingin mewujudkan pembangunan daerah perlu adanya kolaborasi dan sinergi.
“Termasuk persoalan ini menjadi tugas kita bersama. Saat ini sudah kita upayakan agar persoalan akses jalan yang menimbulkan adanya ATS, bisa segera kita selesaikan,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dikeluarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) per Maret 2025, tercatat 13.411 anak usia sekolah di Kutim yang tidak mengenyam pendidikan formal.
Jumlah tersebut, terbagi anak belum pernah bersekolah sama sekali tercatat 9.945. Kemudian sebanyak 1.996 anak putus sekolah di tengah jalan (drop out), dan 1.470 anak yang telah lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Angka ini menempatkan Kutim sebagai kabupaten dengan tingkat ATS tertinggi nomor satu di provinsi Kaltim. (adv/sm3)


























