Catatan : Rusdiansyah Aras *)
Aroma Teh Es y ang mengepul perlahan beradu dengan wangi khas gulai kambing yang menggugah selera dari dapur. Siang itu, Cafe Kompak PWI Kaltim di Jalan Biola No. 8, Samarinda, bukan sekadar tempat singgah. Bagi kami, tempat ini adalah mesin waktu yang mendadak memutar kembali lembar demi lembar kisah klasik yang pernah kami ukir di atas kertas koran dan gelombang udara.
Di sekeliling meja, waktu seolah berjalan melambat. Di sana ada Maturidi, mantan Kabiro Tribun Kaltim yang selalu punya sudut pandang tajam; Intoniswan, pemilik Niaga Asia yang jeli melihat peluang; serta duet andalan RRI Samarinda, Abdik Riyanto dan Jayadi, yang suaranya begitu akrab di telinga publik. Dan tentu saja, ada saya, ikut larut dalam pusaran nostalgia yang hangat.
Kami, para jurnalis senior yang rambutnya mulai memutih ditempa zaman, duduk melingkar. Di halaman sekretariat, keriuhan tampak jelas. Rekan-rekan PWI Kaltim sedang sibuk bergotong-royong, merayakan kebersamaan lewat ibadah kurban dari satu ekor sapi bantuan hangat dari Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Sebuah simbol kepedulian yang menyatukan kami hari itu.
Ketika “Sensor” Menjadi Lelucon.
Namun, magnet utama siang itu tetaplah cerita masa lalu. Liputan masa lalu yang penuh warna, terkadang menegangkan, namun menyisakan rindu yang mendalam.

Gelak tawa kami mendadak pecah berhamburan ke udara saat Into—panggilan akrab Intoniswan—memulai cerita jenakanya. Pembahasan beralih ke era Orde Baru, masa di mana panggung politik tanah air hanya dikuasai oleh tiga warna: Golkar, PDI, dan PPP.
”Kau ingat dulu, Rus?” celetuk Into sambil terkekeh, matanya berbinar mengingat masa jaya itu.
Dengan gaya khasnya, Into membongkar rahasia dapur masa lalu. Dialah sosok yang paling rajin mengedit, menyaring, bahkan kerap merombak total berita-berita hasil liputan saya sebelum naik cetak. Di zaman itu, salah memilih kata bisa berujung panjang. Alih-alih kesal, kenangan tentang bagaimana berita saya “diobrak-abrik” oleh tangan dingin Into justru menjadi lelucon paling renyah yang membuat kami semua tertawa lepas tanpa beban. Andik, Jayadi, dan Maturidi sampai menggeleng-gelengkan kepala, mengamini betapa indahnya dinamika ruang redaksi masa itu.
Menutup Siang dengan Rasa Syukur
Jarum jam bergerak tanpa permisi. Tanpa kami sadari, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 Wita. Obrolan yang melintasi dekade demi dekade itu harus jeda sejenak.
Aroma dari dapur PWI tak bisa lagi berkompromi dengan perut kami. Hidangan gulai kambing hasil racikan tangan dingin ibu-ibu PWI Kaltim telah siap tersaji di meja. Hangat, kaya rempah, dan dimasak dengan ketulusan.
Kami pun menyantapnya bersama. Di Jalan Biola siang ini, kami tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mengenyangkan jiwa dengan rasa syukur dan setia kawan yang tak akan pernah luntur oleh waktu. Kami boleh pensiun dari jabatan struktural, tetapi spirit jurnalisme dan ikatan persaudaraan ini akan terus abadi. ***

























