Beranda Kalimantan Timur Berpulangnya Kiai Hafal Umur

Berpulangnya Kiai Hafal Umur

219
0

Kiai Kasim Pallanju ketika menjadi khatib.

Catatan Rizal Effendi

SAYA menerima kabar duka dari Ustaz Jailani. Telah berpulang ke Rahmatullah KH Mohammad Kasim Pallanju, Minggu (22/2) atau 4 Ramadan 1447 H sekitar pukul 18.30 Wita. Jenazah disemayamkan di rumah duka, Kompleks Perumnas Batu Ampar. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Telindung, Senin (23/2) ba’da salat dzuhur.

Tidak disebutkan latar  kematiannya. Tapi setahu saya belakangan ini beliau jarang keluar rumah karena kondisi kesehatannya yang semakin berat. Termasuk istri beliau, Hj Maisyah Kasim. Pertemuan terakhir  dengan beliau ketika saya menghadiri undangan pernikahan atau Walimatul ‘Ursy di Gedung Kesenian beberapa waktu lalu.

“Pak Wali ya?” katanya menyapa saya seraya tersenyum. Dia masih memanggil saya seperti saat saya menjadi wali kota. Hubungan kami terbilang akrab. Saya banyak berkomunikasi dan menerima masukan dari beliau ketika saya menjadi wali kota.

Beberapa hari sebelum Kiai Kasim meninggal, Ustaz Jailani, Munir Asnawi, Ustaz Ali Mansyur, dan teman-teman lainnya datang menjenguk sepulang dari acara Gong Xi Fa Cai di kediaman Pak Charles, pemilik Hotel Platinum. Seakan memberi isyarat, beliau meminta didoakan agar meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Menurut penuturan H Ali Munsjir Halim, mantan anggota DPRD yang juga keluarga almarhum, kondisi Kiai Kasim hari Minggu itu memang mengkhawatirkan. Hari itu beliau membatalkan syiamnya. Padahal sebelumnya terus berpuasa. Beberapa saat setelah memasuki saat magrib, beliau mengembuskan napas terakhirnya.

Kiai Kasim Pallanju ketika mendapat hadiah umrah gratis di Rakor MUI se-Kalimantan.

Duka menyelimuti keluarga. Seorang cucunya tampak terbaring di sisi jenazah. Saya sempat melayat. Lalu ikut berdoa bersama Kepala KUA Balikpapan Selatan H Sandjoyo, S.Pdi dan Murtafiin, S.Ag, kepala KUA Balikpapan Barat.

Di sana saya sempat bertemu Pak Kasmadi, ketua RT setempat, yang baru saja viral gara-gara protes jalan. Ada juga Ketua FKUB  Balikpapan Drs H Hakimin, MM, yang juga mantan Kamenag. Ada juga Ustaz Sugianto, Ustaz Jaelani, dan Kadis Perdagangan Haemusri Umar.

Jenazah KH Kasim Pallanju dimakamkan di Kompleks Pekuburan Telindung. Sebelumnya ratusan pentakziah menyalatkannya di Masjid  Al Azhar Perumnas ba’da dzuhur. “Beliau orang baik, insyaallah husnul khatimah,” kata seorang warga.

TIGA KALI KETUA DPRD

KH Kasim Pallanju adalah salah seorang tokoh ulama di Balikpapan yang banyak berkiprah untuk daerah. Sarat dengan pengalaman. Dia sempat meniti karier sebagai kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Kodam VI/Mulawarman dengan pangkat terakhir letnan kolonel (Letkol).

Saya dan Ustaz Sandjoyo dan Murtafiin berdoa di depan jenazah Kiai Kasim Pallanju.

Karena pengalamannya yang luas, dia dipercaya pimpinan Kodam memegang jabatan politik. Sempat menjadi ketua DPRD Kabupaten Pasir (sebelum jadi Paser), ketua DPRD Kabupaten Kutai sampai ketua DPRD Kabupaten Bulungan saat masih bergabung dengan Provinsi Kaltim.

Teman seangkatannya mengakui Kiai Kasim punya wawasan dan pandangan yang luas. Dia sukses memimpin DPRD, sehingga dipercaya berkali-kali dengan jabatan tersebut.

Di Balikpapan, Kiai Kasim aktif dalam kegiatan keagamaan. Pernah aktif menjadi pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan.

Menurut Ustaz Jaelani, Kiai Kasim Pallanju dikenal sebagai kiai yang tegas dan punya disiplin kuat. Mungkin bawaan beliau ketika masih aktif sebagai seorang perwira. Setiap pertemuan beliau selalu datang lebih dulu. Kalau ada anggota pengurus yang terlambat, dia tak segan-segan memberi teguran.

Sebagai ketua MUI, Kiai Kasim  selalu berprinsip dengan Fatwa MUI dalam mengambil keputusan. Ingatannya sangat kuat dalam berbagai hal yang menyangkut masalah keagamaan. Dia juga sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Akrab dengan tokoh-tokoh agama lain di antaranya Pak Charles, Pak Samuel, dan lainnya.

Kiai Kasim Pallanju mengenakan sorban dari Kodam VI/Mulawarman.

Banyak kenangan yang diingat Ustaz Jaelani bersama Kiai Kasim. Jaelani mantan kamenag Berau yang lama bertugas di Balikpapan. Dia dikenal sebagai tokoh agama yang aktif di berbagai organisasi keagamaan. Ada satu kebahagiaan yang dialami Kiai Kasim ketika mengikuti Rakor MUI se-Kalimantan. Kiai Kasim mendapat hadiah umrah gratis. 

Yang menarik Kiai Kasim sangat hafal menyebut umur beliau, tidak saja tahunnya, tapi juga dengan hitungan bulan, hari dan jam. Itu diucapkannya setiap ketemu kerabat termasuk dengan saya. ”Umur saya saat ini: 83 tahun, 12 hari, 7 jam, 30 menit,” begitu pernah dia ucapkan.

Unik juga. Terkadang saya tersenyum mendengar ucapan beliau soal umur. Tapi setelah saya renungi, ada makna yang mendalam di balik ucapan itu. Sepertinya beliau mengingatkan kepada kita bahwa umur yang bertambah adalah isyarat bahwa pada saatnya kita akan dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’la. Sebab, setiap makhluk hidup pada saatnya akan menerima kematian. “Kullu nafsin dzaiqatul mauut, tsumma ilainaa turja’uun…” begitu Kiai Kasim sering mengutip ayat 57 surah Al-‘Ankabut ini.

Kiai Kasim termasuk ulama berumur panjang. Dia meninggal dalam usia 89 tahun. Beliau dilahirkan di Maroanging, Kabupaten Enrekang, Sulsel pada hari Minggu 5 September 1937. Delapan tahun sebelum Kemerdekaan RI. Jadi hafal betul dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia termasuk yang terjadi di Sulawesi Selatan. Selamat jalan, Kiai Kasim, insyaallah dilapangkan kuburnya.(*)