Beranda Nasional KONI Pusat Resmi Kukuhkan Kepengurusan PB GABSI Masa Bakti 2026–2030

KONI Pusat Resmi Kukuhkan Kepengurusan PB GABSI Masa Bakti 2026–2030

171
0

Oleh : Bert Toar Polii

Babak baru perjalanan organisasi bridge Indonesia resmi dimulai. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor 139 Tahun 2026 tentang Pengukuhan Personalia Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) Masa Bakti 2026–2030.

SK yang ditandatangani Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, ditetapkan di Jakarta pada 30 Oktober 2026.

Penerbitan SK ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan Kongres GABSI pada 20–21 September 2026 di Sulawesi Barat, yang telah menghasilkan susunan kepengurusan baru untuk periode 2026–2030.

Dalam keputusan tersebut, KONI Pusat mengukuhkan personalia PB GABSI sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan. Kepengurusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan berakhir pada September 2030.

Posisi Ketua Umum PB GABSI dipercayakan kepada Komjen Pol. (Purn) Drs. Verdianto I. Bitticaca, M.Hum. Dalam menjalankan roda organisasi, Ketua Umum didampingi tiga Wakil Ketua Umum, yaitu: 1. Drs. Herry Zaman, Ak – Wakil Ketua Umum I. 2. Beni Jafflius Ibradi – Wakil Ketua Umum II. 3. Jimmy Stevans Rumampuk, SE, M.A.P – Wakil Ketua Umum III.

Sementara itu, posisi Sekretaris Jenderal dipercayakan kepada Ir. Jaury Oktavianus Sakkung, MT, didampingi tiga Wakil Sekretaris Jenderal, yaitu Muhammad Nurholil, Novan Efendi Siregar, dan David Paul Pitna.

Budi Darmawan dipercaya sebagai Bendahara Umum dengan Bakti Utama sebagai Wakil Bendahara Umum.

Susunan Bidang dan Komite PB GABSI

Salah satu hal menarik dari kepengurusan periode 2026–2030 adalah pembagian organisasi ke dalam sejumlah bidang dan komite yang mencakup aspek pembinaan, prestasi, organisasi, teknologi, serta pengembangan ekosistem bridge.

Berikut susunan ketua masing-masing bidang dan komite:

1. Bidang Organisasi, Daerah dan Hukum. Ketua: Ir. Alfi Darwin.

2. Bidang Keanggotaan dan Master Point. Ketua: Alfatia Reno.

3. Bidang Transformasi Digital. Ketua: Ir. Sony Sasongko, MM.

4. Bidang Pembinaan Bakat dan Prestasi. Ketua: Hendra Railis.

5. Bidang Teknik dan Perwasitan. Ketua: Joto Then.

6. Komite Liga Bridge Nasional. Ketua: Very Pangkergo.

7. Komite Bridge Online. Ketua: Fakhri, ST.

8. Bidang Pengembangan Ekosistem Bridge. Ketua: M. Nizar Rahmatu.

9. Bidang Dana, Kemitraan dan Sponsorship. Ketua: Viasmudji Bitticaca, ST, MT.

10. Bidang Hubungan Masyarakat, Luar Negeri dan Publikasi. Ketua: Bert Toar Polii.

11. Bidang Pembinaan Junior dan Bridge Masuk Sekolah. Ketua: Taufik Gautama Asbi.

Untuk mendukung seluruh kegiatan organisasi, sekretariat dipimpin oleh Noldy Robert Ngantung sebagai Kepala Sekretariat, didampingi Mac Leonardo Wajong, S.Pd, MBA sebagai Sekretaris.

Perhatian pada Transformasi Digital dan Bridge Online. Jika mencermati susunan kepengurusan yang baru, terdapat beberapa bidang yang menarik untuk diperhatikan.

Pertama adalah Bidang Transformasi Digital. Kehadiran bidang ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi telah memperoleh tempat tersendiri dalam struktur organisasi PB GABSI.

Perkembangan teknologi informasi membuka peluang besar bagi bridge Indonesia. Pelatihan tidak lagi harus selalu dilakukan secara tatap muka. Pemain dapat mengikuti latihan dari daerah masing-masing, sementara pelatih, termasuk pelatih asing, dapat memberikan materi melalui platform konferensi video.

Sistem pertandingan, administrasi keanggotaan, pengelolaan data pemain, hingga publikasi juga dapat semakin terintegrasi melalui teknologi digital.

Kedua adalah Komite Bridge Online. Dengan semakin berkembangnya pertandingan bridge melalui internet, komite ini mempunyai peluang untuk memperluas partisipasi pemain, khususnya mereka yang tinggal jauh dari pusat kegiatan bridge.

Bridge online juga dapat menjadi sarana pembinaan dan kompetisi yang lebih efisien dari segi biaya dan waktu.

Keduanya tentu perlu bekerja secara sinergis agar digitalisasi tidak hanya menjadi program administratif, tetapi benar-benar menjadi instrumen untuk mengembangkan olahraga bridge.

Pengembangan Ekosistem Bridge Menjadi Tantangan. Kehadiran Bidang Pengembangan Ekosistem Bridge juga merupakan hal yang patut mendapat perhatian.

Pengembangan bridge tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan turnamen dan membina atlet untuk mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional.

Bridge membutuhkan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. Di dalamnya terdapat pemain, pelatih, wasit atau Tournament Director, klub, pengurus daerah, sekolah, perguruan tinggi, sponsor, serta berbagai pihak yang mendukung perkembangan olahraga ini.

Karena itu, koordinasi antara bidang-bidang dalam kepengurusan baru menjadi sangat penting.

Program Bridge Masuk Sekolah, Bridge Masuk Kampus, dan Bridge Masuk Institusi dapat menjadi bagian dari strategi memperluas basis pemain sekaligus membangun regenerasi.

Pembinaan Junior dan Prestasi Tetap Menjadi Prioritas. Bidang Pembinaan Bakat dan Prestasi yang dipimpin Hendra Railis serta Bidang Pembinaan Junior dan Bridge Masuk Sekolah yang dipimpin Taufik Gautama Asbi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan masa depan bridge Indonesia.

Pembinaan atlet junior harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Tidak cukup hanya mengadakan seleksi menjelang kejuaraan internasional.

Diperlukan program latihan terencana, kompetisi berjenjang, evaluasi berkala, serta dukungan pelatih yang berkualitas.

Di sisi lain, pembinaan atlet senior dan tim nasional juga harus terus ditingkatkan agar Indonesia mampu bersaing di tingkat Asia maupun dunia.

Kedua bidang ini perlu bekerja bersama karena prestasi masa depan sangat bergantung pada keberhasilan pembinaan sejak usia dini.

Tantangan Membangun Organisasi yang Lebih Kuat. Dengan banyaknya bidang dan komite yang telah dibentuk, tantangan berikutnya adalah bagaimana seluruh personalia dapat bekerja secara efektif dan saling mendukung.

Organisasi yang baik bukan hanya dinilai dari lengkapnya susunan kepengurusan, tetapi terutama dari program kerja, koordinasi, transparansi, serta hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat bridge Indonesia.

Ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian:

– Memperkuat organisasi bridge di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

– Memperluas keanggotaan serta meningkatkan aktivitas klub-klub bridge.

– Menyusun sistem pembinaan atlet yang berkesinambungan.

– Meningkatkan kualitas pelatih dan Tournament Director.

– Mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital dan bridge online.

– Mengembangkan Bridge Masuk Sekolah dan Bridge Masuk Kampus.

– Memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan sponsor.

– Meningkatkan prestasi Indonesia dalam kejuaraan internasional.

Tentu saja, semua program tersebut membutuhkan kerja sama dan komitmen seluruh pengurus, bukan hanya Ketua Umum atau beberapa bidang tertentu.

Harapan untuk Empat Tahun ke Depan. Terbitnya SK KONI Pusat Nomor 139 Tahun 2026 menjadi landasan formal bagi PB GABSI untuk menjalankan tugas organisasi selama masa bakti 2026–2030.

Kini, setelah proses kongres dan pengukuhan selesai, perhatian sebaiknya diarahkan pada penyusunan dan pelaksanaan program kerja.

Harapannya, kepengurusan baru mampu membawa perubahan positif, tidak hanya dalam peningkatan prestasi atlet, tetapi juga dalam memperluas popularitas bridge, memperkuat organisasi daerah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun ekosistem bridge yang lebih modern.

Empat tahun ke depan merupakan kesempatan untuk meletakkan fondasi yang lebih kuat bagi masa depan bridge Indonesia.

Selamat bekerja kepada seluruh Pengurus Besar GABSI Masa Bakti 2026–2030. Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi kemajuan bridge Indonesia.”

Bridge Indonesia membutuhkan organisasi yang kuat, program yang terarah, dan kerja nyata dari seluruh insan bridge. ***