Satumejanews.id. SANGATTA – Wakil Bupati (Wabu) Kutim Mahyunadi meminta kepada semua pihak, agar membantu menangani masalah stunting di daerah ini. Orang nomor dua di Pemkab Kuti mini mentargetkan penurunan angka stunting sekitar tiga persen setiap tahunnya.
Pernyataan itu disampaikan pada Mahyunadi selaku Selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor yang membahas masalah stunting di Kutim, Selasa (16/12/2025) di ruang Tempudau, kantor Bupati, Kawasan Bukit Pelangi, Sangatta Kutim.
“Target stunting secara nasional memang turun 2 persen. Saya tidak mau turun 2 persen, saya ingin ke depan bisa turun 3 persen per tahun, sehingga di tahun 2030 bisa di bawah 10 persen angka stunting Kutim,” pinta Mahyunadi.
Untuk mencapai target tersebut pihaknya meminta agar semia pihak melaukan sinkronisasi dan kolaborasi yang maksimal antara seluruh OPD, instansi pemerintah, pemerintah kecamatan dan desa, serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. Ia menilai, tanpa kerja bersama lintas sektor, target penurunan stunting yang ditargetkan tersebut akan sulit dicapai.
“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia kita di masa depan. Ini adalah investasi jangka panjang bagi daerah dan bangsa,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan Rakor ini menjadi bagian dari upaya menerjemahkan 50 Program Unggulan Bupati dan Wakil Bupati Kutim periode 2025–2030, di mana sejumlah program prioritas secara langsung berkaitan dengan percepatan penurunan stunting.
Mahyunadi mengingatkan, penanganan stunting harus dilakukan dari hulu karena dampaknya sangat luas terhadap daya saing generasi mendatang. Anak-anak yang mengalami stunting berpotensi kalah bersaing baik secara fisik maupun kualitas sumber daya manusia apabila tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Mantan Ketua DPRD Kuti mini berharap, agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program yang telah berjalan, mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan, serta memperkuat pemanfaatan data dalam penanganan stunting. Beberapa sistem pendukung yang ditekankan antara lain penggunaan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) untuk intervensi anak stunting, serta Sistem Informasi Keluarga (SIGA) guna mencegah munculnya kasus stunting baru.
“Evaluasi ini penting agar kita tahu apa yang sudah efektif dan apa yang perlu diperbaiki. Jangan sampai fokus menurunkan angka stunting, tetapi justru muncul stunting baru karena kurangnya pengawasan dan edukasi,” ujar Mahyunadi.
Ia juga mengingatkan agar percepatan penurunan stunting tidak dibarengi dengan munculnya kasus stunting baru, terutama akibat mobilitas penduduk dan masuknya pendatang yang mencari pekerjaan di Kutim. Untuk itu, peran camat dan kepala desa dinilai sangat strategis dalam melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, dalam laporannya mengatakan, tujuan utama Rakor ini guna menyelaraskan persepsi dan pemahaman seluruh pemangku kepentingan terhadap kebijakan, program, dan kegiatan percepatan penurunan stunting. Selain itu, rapat ini juga bertujuan mengintegrasikan perencanaan agar pelaksanaan program berjalan sinergis, efektif, dan tidak tumpang tindih.
Dikatakan, saat ini Kutim memiliki lebih dari 11 ribu keluarga berisiko stunting. Risiko tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi sosial ekonomi keluarga, keterbatasan akses pekerjaan dan pendidikan, penggunaan metode keluarga berencana tradisional, hingga persoalan sanitasi seperti akses air bersih dan jamban yang belum memenuhi standar kesehatan.
“Oleh karena itu, penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita harus bergerak dari hulu dengan memanfaatkan data By Name By Address (BNBA) keluarga berisiko stunting, sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan terukur,” ujar Junaidi.
Dalam rapat tersebut juga diperkenalkan slogan kerja bersama, “Siapa berbuat apa untuk siapa?”, sebagai penegasan komitmen seluruh pihak agar berkontribusi nyata sesuai peran dan kewenangan masing-masing dalam penanganan stunting.
Kegiatan ini dihadiri Asisten Administrasi Umum Sudirman Latif, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), perwakilan Forkopimda, seluruh camat se-Kutim, perwakilan perusahaan, rumah sakit, tim pakar, serta mitra terkait, baik secara luring maupun daring. (tg)



























