Beranda Kominfo Kutim Delapan Penggiat Budaya Kutim Diganjar Penghargaan, Mulai Seni Rupa Hingga Wastra

Delapan Penggiat Budaya Kutim Diganjar Penghargaan, Mulai Seni Rupa Hingga Wastra

455
0

Satumejanews.id. SANGATTA –  Delapan penggiat seni dan budaya daerah ini, memperoleh penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim). Pelaku seni itu dinilai telah memberikan sumbangsihnya terhadap pelestarian seni dan budaya daerah ini, mulai dari seni rupa hingga Wastra.

“Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi para pelaku seni yang selama ini aktif menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan nilai-nilai budaya di Kutim,” ujar  Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim Padliansyah, Sabtu (15/11/2025).

Penghargaan tersebut diserahkan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bertepatan pada pembukaan Festival Magic Land 2025, Jumat (14/11/2025), di Polder Ilham Maulana, Sangatta, Kutai Timur (Kutim).

Menurtu Padli, proses penentuan penerima penghargaan dilakukan melalui mekanisme penilaian yang ketat. Termasuk wawancara, peninjauan karya, pemutaran video dokumentasi kekaryaan, hingga validasi data oleh tim juri.

“Dari 17 peserta yang mendaftar, hanya delapan yang dinyatakan layak menerima Anugerah Kebudayaan tahun ini. Penilaian dilakukan tim yang melibatkan unsur internal Disdikbud, akademisi, dan Dewan Kesenian Kalimantan Timur,” jelas Padli, panggilan akrabnya.

Ia menambahkan, kategori penghargaan yang diberikan mencakup berbagai bidang. Mulai seni rupa, seni musik, pelestarian wastra, bahasa dan sastra, seni tari, hingga kategori khusus generasi muda berbudaya.

Sedangkan daftar penerima Anugerah Kebudayaan 2025 adalah : Syarwali Ahmad  (Kreator seni rupa), Agung Suroso  Seni rupa), Ises Rahayu (Pelestari wastra), Nisma Mawardah (Pelestari bahasa dan sastra), Maryam Aria Arifin (Seni tari), Mohammad Asmin (Seni tari), Zufikar Muhammad Nugroho (Pelestari seni music), Alfinizar Julianur Fajar (Generasi muda berbudaya).

Menurut Padliansyah, Anugerah Kebudayaan diharapkan dapat memotivasi para pelaku seni untuk terus berkarya dan melestarikan kebudayaan daerah di tengah tantangan modernisasi.

“Ini bukan hanya penghargaan, tetapi juga dorongan bagi generasi sekarang untuk tetap memegang identitas budaya dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari,” tutupnya. (adv/sm3)