Catatan : Syafruddin Pernyata.*)
“Pinjam dulu anting-antingmu, nanti ayah ganti.”
Kalimat itu meluncur tenang dari mulut Dr. Mirna Syafitri. Namun begitu sampai ke telinga hadirin, ruangan mendadak hening.
Sabtu, 13 Juni 2026, dalam Pertemuan Wartawan Legend Bedapatan IV di Samarinda, Mirna mengisahkan sebuah cerita yang mungkin tak pernah tercatat dalam sejarah pers Kalimantan Timur (Kaltim.
Suatu ketika, ayahnya, almarhum HM Fuad Arieph, meminjam anting-anting miliknya. Bukan untuk disimpan. Bukan pula untuk diwariskan. Anting-anting itu dijual untuk membiayai penerbitan Harian Suara Kaltim yang sedang menghadapi kesulitan.
“Yang tidak banyak diketahui orang ialah, ayah pernah meminjam anting-anting saya. Dijual untuk ongkos penerbitan surat kabar,” kenangnya.
Tak ada yang menyangka. Wartawan senior terdiam. Wartawan muda saling berpandangan. Para undangan tampak tersentak. Di balik terbitnya sebuah surat kabar, ternyata tersimpan pengorbanan yang demikian sunyi.

Barangkali bagi sebagian orang itu hanya sebuah anting-anting. Namun bagi dunia pers, kisah itu adalah simbol pengabdian. Tentang sebuah generasi yang mempertahankan media bukan semata-mata sebagai usaha, melainkan sebagai panggilan hidup. Generasi yang rela mengorbankan apa saja agar koran tetap terbit dan masyarakat tetap memperoleh informasi.
Kisah itulah yang paling membekas dalam Pertemuan Wartawan Legend Bedapatan IV. Sebuah pertemuan yang sesungguhnya bukan sekadar reuni, melainkan pertemuan dengan waktu.
Di sebuah ruangan hotel Clario kawasan Gelanggang (lah Raga Stadion Sempaja Samarinda, puluhan wartawan senior berkumpul. Ada yang datang dengan langkah masih tegap, ada yang berjalan perlahan dibantu usia. Rambut yang dulu hitam kini memutih. Sebagian wajah mulai dipenuhi garis-garis waktu. Namun ketika percakapan dimulai, mereka kembali menjadi wartawan: penuh cerita, penuh ingatan, dan penuh tawa.
Pertemuan Wartawan Legend Bedapatan IV sesungguhnya bukan sekadar temu kangen. Ia adalah pertemuan dengan masa lalu. Di sana, berita-berita lama seperti hidup kembali. Nama-nama tokoh yang pernah memenuhi halaman koran disebut satu per satu. Peristiwa-peristiwa yang pernah mengguncang Kalimantan Timur kembali dikenang. Seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kepada para saksi sejarah itu bercakap-cakap dengan kenangannya.
Acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh penting Kalimantan Timur. Tampak hadir Wakil Wali Kota Samarinda, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur, mantan Rektor Universitas Mulawarman Prof. Masjaya, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Namun di antara para tamu yang hadir, ada satu sosok yang menarik perhatian banyak peserta. Dialah Rita Widyasari, mantan Bupati Kutai Kartanegara. Kehadirannya membangkitkan nostalgia bagi banyak wartawan senior. Maklum, dalam perjalanan karier jurnalistik mereka, nama Rita pernah menjadi bagian dari begitu banyak berita, wawancara, laporan, dan dinamika politik yang mewarnai Kalimantan Timur selama bertahun-tahun.
Yang agak berbeda dibandingkan pertemuan serupa empat tahun lalu, Bedapatan kali ini tidak hanya menjadi ruang bernostalgia. Panitia menghadirkan sebuah talkshow yang mempertemukan wartawan dengan dua narasumber penting, yakni Wali Kota Samarinda, Dr. Andi Harun, dan Deputi Lingkungan Otorita IKN, Dr. Mirna Syafitri.
Sebagai pemandu acara, saya meminta Andi Harun melakukan sesuatu yang jarang terjadi: memotret wartawan dari sudut pandang seorang pejabat publik. Selama ini wartawan begitu sering menulis tentang penguasa, mengkritik kebijakan, mengamati perilaku para pemimpin.
Namun sangat jarang wartawan menengok dirinya sendiri melalui mata orang lain. Karena itu, pandangan seorang kepala daerah yang selama bertahun-tahun berinteraksi dengan insan pers patut didengar, bukan untuk dipuji atau dibantah, melainkan untuk dipelajari.
Pada bagian awal, Andi Harun mengapresiasi kehadiran pers sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Namun ia mengingatkan bahwa tugas pers tidak berhenti pada menyampaikan informasi. Pers, menurutnya, memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni ikut mencerdaskan bangsa.

Karena itu, selain informatif, pers harus tetap edukatif, korektif, dan objektif.
Jika Andi Harun berbicara tentang fungsi pers, maka Mirna Syafitri membawa hadirin memasuki ruang yang lebih personal. Ia tidak berbicara sebagai pejabat negara, melainkan sebagai anak seorang wartawan dan pemimpin surat kabar.
Mirna adalah putri almarhum HM Fuad Arieph, pemimpin umum Harian Suara Kaltim dan Ketua PWI Kalimantan Timur selama dua periode. Darah pers bahkan mengalir lebih jauh dalam silsilah keluarganya. Fuad Arieph adalah putra Badrun Arif, tokoh pers yang telah bergelut di dunia jurnalistik sejak sebelum kemerdekaan.
Menurut Mirna, meskipun lahir dan tumbuh dalam keluarga pers, sang ayah tidak pernah memaksanya mengikuti jejak yang sama.
“Ayah demokratis. Ayah membebaskan saya dan saudara-saudara saya memilih jalan hidup sendiri,” tuturnya.
Namun justru dari kebebasan itulah lahir penghormatan yang mendalam kepada sosok sang ayah. Dan penghormatan itu mencapai puncaknya ketika ia mengisahkan cerita tentang anting-anting yang dijual demi menyelamatkan penerbitan surat kabar.

Kalimat sederhana, “Pinjam dulu anting-antingmu, nanti ayah ganti,” terasa lebih nyaring daripada pidato panjang tentang idealisme pers. Di dalamnya tersimpan kecintaan yang nyaris tanpa batas terhadap dunia jurnalistik. Sebuah kecintaan yang tak diukur dengan keuntungan, melainkan dengan pengabdian.
Suasana haru berlanjut ketika panitia menayangkan nama-nama 125 wartawan Kalimantan Timur yang telah berpulang.
Mereka adalah para pewarta yang mengabdikan hidupnya sejak masa pra-kemerdekaan hingga tahun 2026. Nama demi nama muncul di layar. Sebagian hadirin menatap dengan mata berkaca-kaca. Sebagian lainnya terdiam mengenang sahabat, senior, guru, dan rekan seperjuangan yang telah mendahului.
Di ruangan itu, sesungguhnya bukan hanya wartawan yang berkumpul. Yang berkumpul adalah ingatan Kalimantan Timur.
Hadir pula sejumlah wartawan senior yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang pers daerah ini, antara lain Ibrahim Konong, Rizal Effendi, Syafril Teha Noer, Haris Syamtah, Ahim Hasibuhan, Rosehan Anwar, Wardi, Charles Siahaan, Saadillah Hasbullah, Hasbi, Intoniswan, Eddy Alioeddin, Hamdani, Rusdiansyah Aras dan Benny. Sebagian telah berusia lebih dari enam puluh tahun. Namun beberapa di antaranya masih aktif menulis, tetap mengikuti perkembangan zaman, dan terus menyumbangkan pikiran melalui berbagai media.

Mereka menjadi bukti bahwa menjadi wartawan sesungguhnya bukan sekadar profesi. Ia adalah cara hidup. Bahkan ketika usia telah senja, rasa ingin tahu, kegelisahan terhadap keadaan, dan dorongan untuk menyampaikan kebenaran tetap menyala. Sementara mereka yang telah berusia lebih dari setengah abad jumlahnya jauh lebih banyak lagi, membentuk barisan panjang para saksi zaman yang pernah mencatat denyut kehidupan Kalimantan Timur dari masa ke masa.
Ada yang kini menulis di media massa, ada yang mengelola media daring, ada yang menulis buku, dan ada pula yang lebih banyak menjadi penutur sejarah di tengah masyarakat. Namun mereka dipersatukan oleh satu hal yang sama: kecintaan pada kata-kata dan keyakinan bahwa kebenaran harus dicatat.
Barangkali itulah makna terdalam dari Bedapatan. Ia bukan sekadar temu kangen. Ia adalah upaya merawat ingatan. Sebab sebuah daerah yang kehilangan ingatan akan mudah kehilangan arah. Dan di antara para penjaga ingatan itu, wartawan menempati tempat yang istimewa. Mereka mencatat hari ini agar esok tidak lupa dari mana ia berasal.
Ketika acara usai dan para wartawan kembali ke rumah masing-masing, yang tertinggal bukan hanya foto bersama atau jabat tangan perpisahan. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa usia boleh menua, teknologi boleh berubah, dan media boleh berganti rupa. Tetapi nilai-nilai yang membuat pers tetap bermartabat tidak boleh ikut memudar.
Sebab wartawan sejati pada akhirnya bukan hanya penulis berita. Ia adalah penjaga ingatan masyarakat. ***
Syafruddin Pernyata *) Wartawan Senior Kaltim, Mantan Kabiro Humas Pemprov Kaltim, Mantan Dosen Unmul Samarinda


























