Satumejanews.id. SANGATTA – Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, tata kelola data kependudukan yang valid dan terintegrasi sebagai dasar perencanaan pembangunan dan upaya penurunan stunting.
“Terkait hal ini, kami mengimbau kepada masyarakat agar bisa tertib dalam administrasi kependudukan. Sebab, hal ini akan mencerminkan kualitas warga,” ujar Junaidi, Jumat (7/11/2025).
Dikatakan, siapapun yang datang ke Kutim harus menjadi warga yang berkualitas. Artinya, taat asas dalam administrasi kependudukan dan memiliki data yang valid agar bisa diintervensi secara tepat.
Menurut informasi yang diperolehnya, masih banyak warga di kawasan padat dan wilayah barakan yang belum memiliki dokumen penting seperti Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran, dan surat keterangan kematian. Kondisi ini membuat akurasi data pembangunan dan pendataan keluarga berisiko stunting menjadi tidak optimal.
“Sering kali, angka keluarga berisiko stunting rendah bukan karena kasusnya sedikit, tapi karena datanya belum lengkap. Ini yang kami benahi,” ujarnya.
Guna menangani hal ini, DPPKB berkolaborasi dengan Disdukcapil Kutim memperkuat sosialisasi melalui berbagai media, termasuk program Podcast Cap Jempol Stop Stunting. Program ini menghadirkan tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga organisasi perempuan untuk mengedukasi warga tentang pentingnya kelengkapan identitas dan validitas data keluarga.
“Saya ingin para tokoh bicara langsung ke publik, supaya masyarakat sadar betapa pentingnya data kependudukan dalam pembangunan,” jelasnya.
Junaidi menegaskan, kolaborasi lintas perangkat daerah menjadi kunci keberhasilan. “Kolaborasi ini seperti mata rantai. Kalau satu lemah, semuanya ikut terhambat. Maka OPD harus terbuka dan saling mendukung,” katanya.
Ia juga mengingatkan data individu atau by name by address bersifat rahasia dan tidak bisa dibagikan sembarangan, sementara data agregat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan lintas sektor.
“Perencanaan yang baik berawal dari data yang baik. Kalau datanya keliru, maka program sehebat apapun tidak akan tepat sasaran,” tambahnya. (adv/sm4)

























