Oleh : Bert Toar Polii
Benar juga, tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.
Dalam olahraga bridge kita juga perlu melirik variasi penemuan China Contract Bridge Association dalam upaya mempopulerkan olahraga ini..
Ada dua penemuan China yang menarik di dunia bridge. Pertama, untuk mempopulerkan olahraga ini, mereka menyasar kaum muda melalui sekolah. Namun, mereka juga memikirkan bagaimana orang tua dari para pelajar ini ikut tertarik. Karena biasanya jika anak sudah mengajak maka pada umumnya orang tua susah menolak.
Fenomena menarik ini sering terjadi. Salah satu contoh Kejurnas Bridge di Manado dipertandingkan nomor junior dan ini menimbulkan masalah karena orang tua atlet junior membanjiri arena pertandingan sehingga sedikit mengganggu. Untuk itu mereka membuat pertandingan khusus dimana yang bertanding boleh guru berpasangan dengan murid dan anak berpasangan dengan orang tua. Pertandingan ini cukup populer sehingga ikut dipertandingkan di turnamen bridge tingkat internasional.
Satu lagi adalah “three bidding”. Turnamen bridge model three bidding sebenarnya menghianati salah satu dayak tarik bridge yaitu bidding. Tapi memang tidak semua pemain tertarik dengan bidding yang bertele-tele yang umumnya dilakukan oleh pebridge yang gemar “scientific bidding”. Masih banyak yang senang bidding secara natural dan tidak bertele-tele. Di group ini ada dua pemain terkenal yg suka sekali dgn penawaran natural, yaitu: Rixi Markus dan Zia Mahmood.
Nah China membuat pertandingan three bidding dimana seorang pemain hanya mendapat giliran 3 kali bid. Pass, Double dan redouble tidak dihitung. Jadi hanya dengan 6 kali bid maka kontrak akhir sudah harus ditentukan.
Nomor ini sekarang sudah dipertandingkan diluar China seperti pada Intercity Hongkong sudah ada nomor three bidding. Di Indonesia juga tetalh dipopulerkan oleh wasit bridge internasional John Tumewu di Manado. Penulis pernah bertanding di Sanya China dan melihat ada 100 lebih tim yang ikut bertanding.
Barangkali perlu juga dicoba di Indonesia.
Selain itu kenapa kita harus belajar dari China? Dari sisi prestasi saya ingat tahun 1985 dimana saya mewakili timnas Indonesia untuk putra. Pada waktu itu, China untuk pertama kali ikut Far East Bridge Federation Championship. Sekarang sudah berganti nama jadi Asia Pacific Bridge Federation. Indonesia dan Chinesse Taipei menjadi kekuatan utama zone Asia Pasifik ini.
Namun sekarang hanya dalam tempo kurang dari 40 tahun mereka sudah menguasai hamper semua nomor.
Pada waktu itu anggota yang terdaftar di World Bridge Federation masih sangat sedikit. Sementara Indonesia anggotanya sudah diatas 5000an salah satu terbanyak anggotanya di Asia. Tapi kalau kita lihat sekarang, Indonesia turun jadi 2841 anggotanya kalah dari Thailand dan Jepang yang anggotanya meningkat jadi 5000an. China sendiri sekarang anggota yang terdaftar 32.000 orang.
Dari sisi turnamen kita sudah kalah jauh. Hampir tiap weekend ada turnamen disana. Malah sering ada lebih dari satu.
Padahal beberapa tahun yang lalu, Patrick Choy Wakil Presiden WBF waktu itu menuliskan laporan sebagai berikut : Negara-Negara Bridge yang Besar dan Maju
Situasi bridge di Tiongkok dan Indonesia berdiri sendiri. Selain semua karakteristik dari
organisasi olahraga nasional (NBO) utama Eropa, Bridge di negara-negara ini diklasifikasikan sebagai olahraga utama (seperti tenis meja di
Tiongkok dan bulu tangkis di Indonesia) dan didukung oleh subsidi pemerintah yang substansial. Sponsor komersial juga sangat mudah didapatkan. Kedua NBO telah berhasil mempromosikan Bridge di tingkat akar rumput dengan mengajarkan permainan dan menyelenggarakan permainan/turnamen di sekolah, perguruan tinggi, dan
terutama, pusat komunitas. Para pemimpin negara, pejabat setingkat menteri, dan eksekutif puncak perusahaan besar adalah pemain yang antusias yang selama beberapa dekade bertindak sebagai duta untuk permainan Bridge. Tiongkok dan
Indonesia, dengan populasi gabungan 1,6 miliar, menempati 24% dari populasi dunia; namun populasi Bridge per kapita mereka tidak lebih dari 2%. Dengan sumber daya yang bersedia disumbangkan oleh pemerintah dan
perdagangan, Tiongkok dan Indonesia mewakili potensi pertumbuhan tertinggi untuk World Bridge Federation. ***


























