Satumejanews.id. BARABAI — Bencana Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di wilayah HST (Hulu Sungai Tengah), Provinsi Kalsel, menuntut penguatan personel dan koordinasi penanganan di lapangan. Itu seiring turunnya dana bantuan pemerintah pusat sebesar Rp10 miliar (M) untuk penanganan Karhutla.
Kepastian kucuran dana ini disampaikan Bupati HST, Samsul Rizal di tengah polemik seputar dana penanggulangan Karhutla di HST. “Alhamdulillah, dana penanganan Karhutla sebesar Rp10 miliar dari pusat sudah turun,” ujar Bupati Rizal saat memberikan keterangan melalui telepon seluler terkait perkembangan bantuan tersebut, Kamis (22/10/2026).
Bupati Rizal sendiri bersyukur dan gembira. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto atas perhatian dan dukungannya terhadap upaya penanganan Karhutla, khususnya di wilayah Kabupaten HST.
Turunnya bantuan pemerintah pusat ini memberikan kejelasan atas polemik dana penanganan Karhutla yang sempat mencuat dan berkembang di masyarakat. Namun, pelaksanaan program dan penggunaan anggaran ini tetap menjadi perhatian.

Bupati Rizal berharap melalui dana bantuan ini dapat memperkuat upaya Pemkab HST dalam mencegah dan menanggulangi bencana Karhutla. Dukungan anggaran juga diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan personel dan semua pihak yang terkait menghadapi potensi kebakaran di HST.
Menurut Bupati, penanganan Karhutla memerlukan koordinasi lintas sektor, kesiapan personel, serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Seluruh aspek ini menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana Karhutla.
Berkaitan itu, penggunaan dana Rp10 M ini diharapkan bisa dioptimalkan sesuai dengan peruntukannya. Sebab, pengelolaan anggaran yang tepat akan mendukung pelaksanaan penanganan Karhutla secara efektif serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
BANTUAN YANG DITUNGGU

Sementara Plt Kepala BPBD dan Damkar HST, Ahmad Fathoni juga menyambut gembira dan bersyukur. “Alhamdulillah, kita dapat bantuan. Dana ini memang kita tunggu-tunggu untuk penanganan Karhutla,” ujarnya memberikan konfirmasi kepada awak media.
Ia menyebut, selama ini pihaknya telah bekerja keras melakukan pemadaman bersama seluruh pihak, baik TNI-POLRI, Balakar 654, relawan dan lainnya. “Daya dukung ini sudah semestinya mendapat tanggapan dan respon positif dari pemerintah baik pemerintah pusat, provinsi dan daerah,” tutupnya.
Sebelumnya, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD dan Damkar HST sendiri, Ahmad Apandi menyebut, pihaknya menyiagakan 43 personel TRC BPBD dan 9 personel Damkar yang siaga 24 jam nonstop dengan sistem piket. Mereka didukung kesiapan armada yang kondisinya prima berupa 5 unit motor trail, 2 mobil tangki pemadam, 2 mobil double cabin, serta 3 mobil pick-up.
Peralatan pendukung lainnya seperti mesin portable, mesin apung, mesin jinjing, selang naga, konektor, hingga Alat Pelindung Diri (APD) anti api juga dalam kondisi siap tempur di lapangan.
LUASAN KARHUTLA DI HST

Sejauhmana ini berapa luasan Karhutla di HST? Ahmad Apandi menyebut, kejadian atau kasus Karhutla di HST sampai Rabu, 21 Oktober 2026 sebanyak 111 kejadian yang ditangani. “Total luasan lahan yang terbakar mencapai 213,88 hektare (ha), dengan luas lahan yang dipadamkan 59,98 hektare,” ujar Apandi kepada awak media.
Sebaran api Karhutla meliputi semua kecamatan. Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS) tertinggi dengan 28 kejadian (luas terbakar 44,96 ha, tertangani 14,9 ha). Kecamatan Pandawan 21 kejadian (luas terbakar 17,671 ha, tertangani 5,871 ha), dan Labuan Amas Utara (LAU) dengan 15 kejadian (luas terbakar 41,3015 ha, tertangani 16,3 ha).
Wilayah lainnya, Kecamatan Barabai 9 kejadian (luas terbakar 3,2 ha, tertangani 2,5 ha), Batang Alai Utara (Batara) 9 kejadian (luas terbakar 40,3 ha, tertangani 14,9 ha), Kecamatan Haruyan 9 kejadian (luas terbakar 6,589 ha, tertangani 0,783 ha), dan Hantakan 8 kejadian (luas terbakar 24,9 ha, tertangani 0,9006 ha).
Kecamatan dengan eskalasi lebih sedikit meliputi Batu Benawa sebanyak 4 kejadian (luas terbakar 4,25 ha, tertangani 1,23 ha), Batang Alai Timur (BAT) 3 kejadian (luas terbakar 22 ha, tertangani 1 ha), Batang Alai Selatan (BAS) 3 kejadian (luas terbakar 1,7 ha, tertangani 1,6 ha), serta Limpasu dengan 2 kejadian (luas terbakar 7 ha, tertangani 1,6 ha). (adv-msb/jjd).


























